Wawancara Eksklusif AKBP Guntur Saputro Menghadapi Penyelundupan Benur di Kabupaten Tanjab Barat

Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi tantangan bagi jajaran kepolisian di sana.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/samsul bahri
Kapolres Tanjung Jabung Barat AKBP Guntur Saputro. 

Wawancara Eksklusif AKBP Guntur Saputro Menghadapi Penyelundupan Benur di Tanjab Barat

TRIBUNJAMBIWIKI.COM - Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi tantangan bagi jajaran Kepolisian di sana.

Satu di antara tantangan itu adalah, kabupaten itu menjadi jalur penyelundupan benur atau benih lobster.

Bagaimana Polres Tanjung Jabung Barat menghadapi tantangan itu?

Tribuners, simaklah wawancara Tribun Jambi bersama Kapolres Tanjung Jabung Barat, AKBP Guntur Saputro.

Sepanjang Bapak bertugas di Tanjung Jabung Barat, berapa banyak kasus penyelundupan benur yang diungkap?

AKBP Guntur: Selama kami menjabat di Polres Tanjung Jabung Barat, ini penggagalan penyelundupan benih lobster keempat kali. Yang pertama di satu mobil ada 15 box styrofoam, kedua menggagalkan 25 box, ketiga 77 box, dan yang terakhir ini ada 36 box. Totalnya ada 156 box styrofoam. Ada 25 kantong dalam setiap styrofoam, setiap kantongnya ada 200 benih lobster.

Benih lobster ini ada dua jenis: ada yang pasir dan mutiara. Kurang lebih kalau dikonversi ke rupiah, kurang lebih ada Rp100 miliar sumber daya ikan, khususnya benih lobster, yang berhasil kia selamatkan untuk tidak menyeberang, khususnya ke luar negari. Karena,sumber daya ikan ini sangat memiliki potensi keuangan negara yang bisa didongkrak. Ekonominya luar biasa, jika bisa dikelola dengan baik.

Baca juga: Ketika Orang Rimba di Jambi Mengikuti Ujian Keaksaraan Dasar

Empat kali penyelundupan, sejak kapan?

AKBP Guntur: Sejak tahun 2020 awal. Saya menjabat (Kapolres Tanjung Jabung Barat) pada akhir 2019. Jadi, 2020 awal itu mulai marak.Benih lobster ini sebenarnya sudah cukup menjadi favorit.

Saat dulu mendengar informasi Bu Susi, ini jadi salah satu prioritas yang harus diamankan, karena menjadi salah satu permmintaan terbesar di negara Vietnam, karena di sana ada genetika lobster yang bagus, budidaya lobster yang baik, akhirnya lobster itu kembali lagi ke Indonesia.

Keluar Indonesia dengan harga minimal, kembali ke Indonesia dengan harga maksimal. Tentunya, ini akan jadi kerugian negara yang besar jika tidak kita kendalikan dengan baik, tidak kita awasi, apa lagi bisa menyebar ke negara tetangga.

Ini menjadi PR dari tahun ke tahun, karena benih lobster ini menjadi favorit bagi oknum-oknum tertentu yang ingin mendapatkan fee yang besar.

Caranya mudah, cepat, komunikasinya terputus, sehingga ketika melakukan penggagalan menemukan banyak kesulitan untuk bisa mencari siapa intelectual leadernya ini, baik pemasok barang mau pun calon penerima barang yang ada di negara lain. Tapi kita tidak pernah menyerah, tetap berupaya.

Tanjung Jabung Barat ini menjadi salah satu pintu favorit bagi para oknum penyelundup, karena kita ada satu kuala yang bisa menempuh waktu singkat ke Singapura, dengan kapal cepat bisa ditempuh 2,5 hingga 3 jam.

Selain Tanjung Jabung Barat, ada lagi satu pintu, yaitu Tanjung Jabung Timur. Jambi ini memang sering menjadi salah satu tujuan utama para penyelundup untuk mentransitkan benur itu sehingga bisa dikirim dengan mudah ke luar negari.

Pengalaman selama ini, benur ini didatangkan dari mana?

AKBP Guntur: Dari keterangan beberapa tersangka yang kita amankan, ada menyebutkan bahwa, rata-rata yang kita tangkap ini berperan mengatur penyelundupan benur biasanya dari Kota Jambi menuju Kuala Tungkal atau dari Kuala Tungkal menuju kapal cepat yang sudah menunggu di ambang luar. Dari keterangan mereka ini, ada yang menyebutkan dari Lampung, Pangandaran, dan Jawa Timur.

Beberapa waktu lalu kita bersama Satgas Gempur dari Polda, gabungan dari Tanjab Timur, Tanjab Barat, Ditpolairud Polda, kita mencoba menelusuri lebih dalam dan lebih tinggi siapa pemasok dan penerima barang.

Alhamdulillah waktu itu tim cukup berhasil karena salah satu penyuplai barang dari Pangandaran ini berhasil kita telusuri dan lengkapi alat buktinya, sehingga bisa kita tangkap, kita amankan, kita proses penegakan hukumnya. Jadi yang bisa dibuktikan yang berasal dari Pangandaran saat itu. Kita lakukan penegakan hukum secara profesional.

Karena apabila suplier-nya tidak bisa kita tangkap maka lalu lintas, ini akan terus-menerus, karena banyak yang siap menjadi penghubung mau pun lalu lintas penyelundupm baik yang di darat mau pun yang di laut, karena cukup tinggi tawaran yang menggiurkan dengan waktu yang cukup cepat dan cara kerja yang tidak begitu rumit, mereka diiming-imingi dengan tawaran fee yang cukup menggiurkan.

Baca juga: VIDEO Viral Video Pria Latah Usapkan Tangan Penuh Oli ke Wajah

Ini menjadi atensi kita supaya lingkungan di Tanjung Jabung Barat ini bisa berupaya sama-sama menggagalkan penyelundupan benur ini.

Dari empat kali penangkapan, mereka hanya berhenti di level nelayan saja atau bisa ditingkatkan ke level di atasnya?

AKBP Guntur: Salah satu yang bisa ditingkatkan ke level atasnya ialah penelusuran dari apa yang ditangkap di Tanjung Jabung Timur mau pun di Tanjung Jabung Barat, kita harus terintegrasi baik itu penyidik antar-Polres mau pun di Polda Jambi. Pak Kapolda Jambi melihat itu sebagai sindikat, sehingga kita melakukan evaluasi.

Yang ditangkap di timur, di barat, mau pun di Polda, kita kerucutkan, apakah mereka memiliki konektivitas, sama-sama memiliki sumber pengiriman yang sama. Ternyata di beberapa penangkapan kita memang memiliki hubungan, sehingga hubungan-hubungan itu kita sinkronkan.

Di timur suplainya sama, di barat juga sama, sehingga itu menjadi kelengkapan alat bukti, petunjuk, mau pun saksi, sehingga bisa tarik ke suplier-nya, makanya yang di Pangandaran bisa kita amankan, termasuk yang di Riau yang menyiapkan kapal cepat, karena kapal cepat yang disiapkan itu manakala sudah menerima pengiriman benur dari sungai mereka memiliki mesin yang cukup besar dan cukup kencang.

Jika kita mengejar dengan prasarana kita saat ini, kewalahan kita mengejarnya. Waktu itu bisa diamankan yang di Batam yang mengatur mengenai speed mau pun lalu lintas pengiriman barang sampai ke Singapura.

Kasus terakhir, penangkapan dengan pelaku AS alias Acok di tengah laut, bagaimana kronologinya?

AKBP Guntur: Kelompok ini sudah diendus bekerja selama Ramadan. Indikasinya mereka memanfaatkan momen Ramadan ini--yang kita fokusnya pada Covid-19, lalu lintas orang, dan karena masih masa pandemi--mereka melihat itu sebagai peluang untuk penyelundupannya. Saat penegak hukum sedang berkonsentrasi yang lain, mereka memanfaatkan situasi itu. Indikasi itu sudah kita cium cukup lama dan sudah kita lakukan upaya lebih. Namun mereka cukup licin karena memanfaatkan waktu-waktu saat petugas lengah, antara pukul 00.00 WIB hingga dini hari.

Pertama kali dapat informasi, kita mencoba melakukan penggagalan. Karena kita melakukan pencegahan pada waktu jam-jam sibuk, itu sudah mereka petakan. Mereka mengatur waktu saat kita lengah. Dengan adanya evaluasi itu, kita membagi tim. Jadi, ada tim sore, ada tim malam, yang menjaga setiap waktu. Mereka melakukan upaya penyelundupan ini cukup terstruktur. Ada tim pengawalnya, ada pembawa benur, penyapunya, sehingga ketika petugas ada di perlintasan jalan, mereka sudah mengetahui itu.

Di upaya terakhir ini kita menunggu di wilayah sungai. Harapan kita, ketika mereka tertangkap, kita bisa mengejar ke kapal cepatnya. Upaya itu hampir berhasil, namun terkendala waktu yang sudah menjelang matahari terbit sehingga pelaku yang kita harapkan bisa ditangkap (pembawa kapal cepat) mulai curiga. Namun penagkapan di kapal ini satu-satunya penangkapan yang kita lakukan di wilayah perairan dari empat kali penangkapan.

Saat kita lakukan penangkapan di sungai menuju arah muara, empat orang ini tidak menyerah begitu saja. Saat disuruh berhenti, mereka tetap melajukan pompong, tapi dengan kesigapan petugas, kita sudah siap untuk mengejarnya. Tapi keberhasilan kali ini tidak hanya petugas Polri saja yang bekerja, kita juga memberdayakan masyarakat di sepanjang jalur Kuala Indah, Sungai Limpung, Betara, semua masyarakat yang kita rekrut menjadi Satgas Gempur kita pasang menjadi masyarakat yang suka rela peduliĀ  terhadap lingkungan, khususnya penyelundupan benur di wilayah Tanjung Jabung Barat.

Dengan adanya keterlibatan masyarakat ini, lebih memudahkan kita untuk melakukan upaya penangkapan karena fokusnya para pelaku ini adalah petugas Polri. Baik yang berseragam mau pun yang tidak, mereka sudah memahami, sehingga kita memanfaatkan masyarakat yang suka rela untuk Satgas Gempur ini. Jadi, ketika kendaraan pengangkut masuk di wilayah Betara, itu sudah ada informasi masuk mereka sudah melintas. Ketika masuk wilayah sungai, kita sudah melakukan pengintaian dan penangkapan.

Apa ancaman hukuman yang diterapkan pada mereka?

AKBP Guntur: Mereka dikenakan ancaman Undang-undang Perikanan, yang ada dalam Undang-undang nomor 45 tahun 2009, melanggar pasal 88 Jo pasal 26 dan pasal 92 Jo pasal 16 yang ancaman hukumannya delapan tahun dan denda maksimal Rp1,5 miliar.

Kita sudah koordinasi dengan kejaksaan dan pengadilan, kita sepakat kepada penyelundup benur ini kita lakukan upaya maksimum untuk tindakan represifnya. Selain menerapkan Undang-undang Perikanan, kita juga menerapkan pasal berlapis dengan Undang-undang pencucian uang atau TPPU.

Kita lakukan penegakan hukum dengan money loundry, harapan kita itu bisa menjerakan pelaku-pelaku ini. Mudah-mudahan menjadi sarana ampuh untuk menekan penyelundupan benur di Tanjung Jabung Barat.

Baca juga: Mengungkap Sejarah Perdagangan Lada Tempo Dulu di Jambi, dari Abad ke-16 hingga ke-18

Baca juga: Wawancara Eksklusif Abdullah Ketua DPRD Tanjab Barat, Berawal Dari Kepala Desa

Apa pesan Bapak kepada masyarakat Tanjung Jabung Barat, khususnya di pesisir?

AKBP Guntur: Upaya penanganan penyelundupan benur ini tidak bisa hanya dibebankan kepada Polri. Ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk menyelamatkan sumber daya ikan di negara kita, karena benur ini bisa menjadi unggulan sumber daya yang bisa dimanfaatkan maksimal.

Upaya penggagalan ini, kita harus bergerak bersama, kita harus kompak supaya tidak menjadi wilayah subur penyelundupan benur. Kita harus bersama-sama untuk sukarela menjadi polisi di lingkungan masing-masing, memberikan informasi, dan berupaya bersama-sama untuk menggagalkan penyelundupan benur melalui jalur wilayah Tanjung Jabung Barat ini.(tribun jambi/mareza sutan aj)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
457 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved