Mengungkap Sejarah Perdagangan Lada Tempo Dulu di Jambi, dari Abad ke-16 hingga ke-18

Sejak dulu, Indonesia dikenal dengan rempahnya, tidak terkecuali Provinsi Jambi. Satu diantaranya adalah merica atau lada.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
Sumber: troppenmuseum, dipotret dari buku Dari Hulu ke Hilir Batanghari: Aktivitas Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI-XVIII
Sungai Batanghari Jambi (1893) menjadi jalur distribusi lada tempo dulu 

Mengungkap Sejarah Perdagangan Lada Tempo Dulu di Jambi, dari Abad ke-16 hingga ke-18

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI - Sejak dulu, Negara Indonesia dikenal dengan rempahnya, tidak terkecuali Provinsi Jambi. Satu diantaranya adalah merica atau lada.

Sekitar abad ke-16 hingga abad ke-18, Jambi pernah menjadi kawasan perdagangan lada yang subur.

Konon, dulu, harga lada bisa disamakan dengan emas dan batu permata. Itu sebabnya penjelajah Eropa berbondong-bondong untuk mencari daerah penghasil lada.

Dedi Arman dalam bukunya berjudul 'Dari Hulu ke Hilir Batanghari: Aktivitas Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI-XVIII' menjelaskan kondisi perdagangan lada di Jambi saat itu.

Lada berasal dari Ghat Barat, India. Sekitar tahun 600-110 sebelum Masehi, banyak koloni Hindi yang datang ke Jawa.

Sungai Batanghari di kawasan Desa Kumpeh, Londrang dan Niaso Kabupaten Muarojambi
Sungai Batanghari di kawasan Desa Kumpeh, Londrang dan Niaso Kabupaten Muarojambi (tribunjambi/zulkifli)

Mereka itulah yang diperkirakan membawa bibit lada ke Jawa, meski lada dari nusantara telah dikenal sejak awal abad Masehi, namun baru menjadi kemudi komoditi termasyhur pada abad ke-12.

Penjelajah Eropa-lah yang membuat lada Nusantara semakin dicari di seluruh dunia.

Sampai akhir Perang Dunia II, 1942, Indonesia adalah wilayah penghasil lada terbesar dan hingga kini Indonesia menjadi produsen lada dunia.

Pada awal kedatangan bangsa Eropa abad ke-16 hingga abad ke-18, ada tiga kawasan penghasil lada: kawasan pesisir sebelah utara pantai barat Sumatra, yaitu di Barus, Singkil, dan Meulaboh; kawasan bagian selatan pesisir barat Sumatra yang meliputi Indrapura, Bengkulu, dan Lampung; dan kawasan bagian tengah dan selatan bagian timur pulau Sumatra, yaitu Aceh, Jambi, dan Palembang.

Di Sumatra budidaya merica dimulai abad ke-15. Pedagang India yang memperkenalkan merica saat bertemu pedagang Sumatera.

Tanaman ini begitu menarik, faktornya adalah tidak memerlukan lahan yang subur dan curah hujan lebih dari 2500 milimeter per tahun.

Jaringan pelayaran dan perdagangan rempah di Jambi pada era awal terdiri dari dua bentuk utama, yaitu jaringan hulu dan jaringan hilir. Pada awal abad ke-16, petani lada di Hulu Jambi menjual adanya ke hilir.

Dari sana pedagang besar lada mengangkut lada ke pelabuhan yang lebih besar dari Jambi, seperti Palembang, Banten, Gresik, dan Pattani di Semenanjung Malaya.

Baca juga: Tapal Batas di Desa Tanjung Mandiri Muarojambi dan Batanghari Masih Bermasalah

Selama 60 tahun lebih, sebagian besar lada produksi Jambi tak dijual ke hilir Jambi, melainkan dijual ke pelabuhan yang populer di mata pedagang Cina. Dampaknya, aktivitas perdagangan di Jambi masih kurang ramai dibandingkan tetangganya yaitu Palembang.

Kira-kira 60 perahu kecil pergi ke hulu untuk mengumpulkan lada dalam setiap tahunnya. Mereka datang antara akhir Maret dan awal April setelah musim penghujan berakhir. Mereka juga datang setelah menghadiri panen raya yang dilaksanakan bulan Oktober. Sementara, para petani lada dari hulu muncul di pelabuhan Jambi antara November dan Desember.

Lada itu dibawa dengan rakit. Diperkirakan 40.000 hingga 50.000 karung lada dari Jambi. Namun, pengiriman lada sering terganggu karena kesulitan akses geografis antara hulu dan hilir.

Penundaan sering berbulan-bulan, karena rakyat hanya bisa melewati sungai dalam kondisi air tinggi. Saat kondisi dangkal, pelayaran dari hulu berhenti setelah melewati Sungai Tembesi.

Akhir abad ke-16, daerah hulu Sungai Batanghari dinyatakan sebagai daerah Rantau atau daerah migrasi orang Minangkabau. Dalam berpuluh-puluh tahun setelahnya, arus rantau orang Minangkabau ke hulu Sungai Batanghari semakin intensif.

Produsen utama lada di Jambi adalah orang-orang Minangkabau yang tinggal di sepanjang Sungai Batanghari, khususnya di dua titik, yaitu di Tanjung dan di Kuamang. Kerinci juga dikenal dengan penghasil lada jenis lada yang dibudayakan.

Petani lada di hulu tidak selalu menurut dan mau berhubungan dengan agen lada yang datang dari hilir.

Tidak semua petani lada menjual lada mereka ke pelabuhan Jambi. Petani lada di XI Koto dan VII Koto, misalnya, menggunakan Muara Tebo sebagai pelabuhan alternatif. Bahkan, Muara Tebo sempat mendapat julukan Malaka Kecil.

Daerah hulu Muara Tebo memiliki akses jaringan transportasi ke Indragiri dan Kuala Tungkal melalui Sungai Sumay dan dilanjutkan dengan jalan setapak menembus hutan.

Sungai Batanghari termasuk terpanjang di Sumatera
Sungai Batanghari termasuk terpanjang di Sumatera (tribunjambi)

Saat musim kemarau, perdagangan dengan pelabuhan Jambi terhenti Muara Tebo berperan menjadi pelabuhan transit. Sungai di Muara Tebo begitu ramai karena barang-barang dagangan berupa hasil tekstil dan garam dibawa orang Melayu dari Kuala Tungkal. Beberapa transaksi masa itu masih menggunakan sistem barter.

Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 Portugis secara aktif Berdagang di pelabuhan Jambi menggunakan kapal-kapal kecil.

Pada abad ke-15, impor Eropa meningkat pesat. Tahun 1500, impor mencapai 1200 ton per tahun. Di mata Portugis, Jambi telah dikenal sebagai penghasil lada sejak tahun 1545. Pada 1568, Portugis menyebutkan daerah ini dalam instruksi untuk gagasan baru guna meningkatkan akses Portugis terhadap persediaan lada.

Belakangan, terjadi persaingan antara Portugis, Cina, Belanda, dan Inggris.

Portugis sangat pintar dalam berbisnis lada mereka enggan membeberkan mengenai Jambi sebagai salah satu daerah pusat perdagangan lada ke bangsa Eropa lainnya. Kondisi ini didukung dengan kondisi alam Selat Malaka bagian selatan yang menjadi kuburan bagi kapal-kapal bangsa Eropa.

Garis pantai Jambi juga amat menipu, tidak banyak petunjuk untuk masuk ke sungai Jambi. Satu-satunya petunjuk bagi pelaut adalah pulau di lepas pantai yang tidak berpenghuni, yaitu Pulau Berhala.

Sedangkan Batanghari punya banyak cabang dan jalur masuk ke sungai utama sangatlah sulit.

Bangsa Portugis dan Eropa acap memanfaatkan orang-orang laut sebagai pemandu. Mereka memiliki peran penting dalam perdagangan lada.

Abad ke-17, jung-jung dari Cina masuk sebagai pesaing Portugis. Di sisi lain, Belanda dengan VOC dan Inggris dengan IEC juga masuk sebagai pesaing dalam memperebutkan lada di Jambi.

Pada 1616 Pelabuhan Jambi sudah digadang-gadangkan sebagai pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh. Perdagangan lada berdampak pada peningkatan kesejahteraan istana.

Namun, kerja sama sultan dengan Belanda tak disenangi rakyat Jambi. Rakyat marah karena Belanda terlalu memonopoli perdagangan lada di Jambi. Tahun 1690, pos dagang Belanda di Muara Jumpeh diserbu rakyat Jambi.

Menjelang akhir abad ke-17 keseganan untuk menanam lada sangat jelas muncul dalam tulisan-tulisan Melayu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari istana yang terancam oleh tidak stabilnya perekonomian. Tahun 1680, Jambi kehilangan posisinya sebagai pelabuhan lada utama di pesisir timur Sumatera telah bentrok dengan Johor. Hal ini diperparah pergolakan internal dalam bidang perdagangan.

Ada dua faktor yang menyebabkan perdagangan lada di Jambi mengalami kemunduran, yaitu turunnya harga lada di pasaran Eropa dan daerah hulu yang jauh dari pusat kekuasaan kesultanan.

Pada 1720, di dataran tinggi Jambi, masyarakat beralih menanam kapas dan padi. Petani meninggalkan tanaman lada karena harganya terus anjlok.

Baca juga: Wawancara Eksklusif Abdullah Ketua DPRD Tanjab Barat, Berawal Dari Kepala Desa

Baca juga: Ketika Orang Rimba di Jambi Mengikuti Ujian Keaksaraan Dasar

Masyarakat, khususnya di hulu, beralih ke tanaman lain, juga mulai menggeluti pekerjaan lain seperti mencari emas.

Meski begitu, sejarah pernah mencatat bahwa Jambi pernah menjadi satu di antara pusat perdagangan lada di Indonesia.(tribun jambi/mareza sutan aj)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
456 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved