Perjalanan Karier Hairan, Wabup Tanjab Barat Dari Kepala Dusun hingga Wakil Bupati

Hairan mengawali karier sebagai kepala dusun, siapa sangka kini dia duduk sebagai wakil bupati dalam jangka waktu sekitar delapan tahun

Editor: Rahimin
tribunjambi/samsul bahri
Hairan, Wakil Vupati Tanjung Jabung Barat dalam satu kesempatan. 

Perjalanan Karier Hairan, Wabup Tanjab Barat Dari Kepala Dusun hingga Wakil Bupati

TRIBUNJAMBIWIKI.COM - Ada kisah menarik di balik sosok Hairan, Wakil Vupati Tanjung Jabung Barat.

Hairan mengawali karier sebagai kepala dusun, siapa sangka kini dia duduk sebagai wakil bupati dalam jangka waktu sekitar delapan tahun.

Perjalanannya itu dia ungkapkan dalam wawancara bersama Tribun Jambi, yang bisa disimak dalam petikan berikut.

Dari kepala dusun menjadi wakil bupati, bagaimana prosesnya?

Hairan: Tidak terpikir sampai di posisi seperti sekarang. Dulu, waktu pemilihan kepala desa di Dusun Mudo, kepala desa terpilih menunjuk saya menjadi kepala dusun. Waktu itu istri tidak setuju, saya juga tidak setuju karena belum mengerti ilmu pemerintahan. Tapi pak kades memberi penjelasan kepada saya, sehingga saya mau jadi kepala dusun, namanya Dusun Dua, Desa Dusun Mudo.

Lebih kurang 2 tahun jadi kepala dusun, terjadi pemekaran desa, salah satunya Desa Lubuk Sibontan, sehingga terjadi pemilihan kepala desa lagi. Waktu itu saya diminta juga menjadi kepala desa, tapi tidak mau juga. Tapi beberapa tokoh datang ke rumah, mengajak sama-sama belajar. Kalau tidak mampu nanti, silakan mundur. Seiring sejalan, belum satu tahun menjadi kepala desa, terjadilah pemilihan Ketua Asosiasi Kepala Desa Indonesia. Saya ditunjuk untuk jadi ketua kepala desa se-Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Waktu itu gaji kepala desa masih Rp1,2 juta, sehingga serba sulit. Gajian pun ada yang tiga sampai empat bulan sekali. Desa yang kita mekarkan pun belum punya TKD (tanah kas desa) sama sekali, sehingga ada tantangan suka dan dukanya.

Saya bersama kawan-kawan meningkatkan sumber daya manusia. Ini tanggung jawab yang besar untuk dapat layak menjadi kepala desa. Waktu itu melalui sosalisasi peningkatan kapasitas perangkat desa se-Tanjung Jabung Barat, dalam sambutan saya menyampaikan untuk meningkatkan gaji perangkat desa Rp4 juta, karena kami berpatokan dengan gaji kepala desa di Tangerang yang paling tinggi se-Indonesia. Waktu itu dikabulkan pak bupati jadi Rp3,5 juta.

Baca juga: Lomba Inovasi Produk, Balitbangda Jambi Berharap Bisa Meningkatkan Daya Saing Olahan Nanas & Pinang

Baca juga: Saat Kebun dan Kolam Pemancingan di Batanghari Disulap Menjadi Tempat Rekreasi Keluarga

Menjadi kepala desa itu juga tidak sampai satu periode, hanya lima tahun. Kemudian ada pemlihan DPRD. Saya ikut dalam pemilihan DPRD waktu itu dari Partai Amanat Nasional. Alhamdulillah 2019 terpilih menjadi anggota DPRD dari PAN. Delapan bulan kemudian mundur juga, karena diajak Pak Bupati, Anwar Sadat, untuk mendampingi beliau. Alhamdulillah, sampai ke titik ini.

Apa background Bapak sebelum menjadi kepala dusun?

Hairan: Saya tidak terpikir jadi kades. Background orang biasa. Pendidikan saya SMA. Pas mencalon kades itu, saya kuliah karena memang tuntutan kawan-kawan kepala desa, untuk jadi pemimpin kepala desa itu harus tahu cara melindungi kawan-kawan kades. AKhirnya, saya kuliah ambil jurusan hukum di Unbari, sehingga jika ada yang bermasalah dengan hukum, kita bantu selesaikan.

Pas lahir dana desa pertama itu, saya berpikir bagaimana menggunakannya. Di desa saya itu, kebutuhan air luar biasa sulitnya. Jadi, setiap kemarau orang berlomba-lomba mencari air. Dengan dana desa yang ada, saya harus mampu mengoptimalkan agar air di desa saya itu dapat diakses dengan mudah.

Allah kasih jalan. Waktu itu, ada warga saya mengalami kecelakaan motor, tidak mau berobat secara medis, hanya mau berobat ke dukun patah. Jadi, saya antar pakai mobil saya ke Sitiung, Sumatra Barat. Sampai di sana, saya melihat bangunan 10 meter. Saya tanya itu menara apa, mereka bilang menara air. Saya tanya bagaimana sistemnya.

Saya pikir, bisa adopsi dana desa saya seperti ini. Saya panggil masyarakat, saya ajak bangun menara air. Kami bikin sumur, bikin menara 10 meter dengan tinggi bak penampungan 3x3 meter. Kita pasang otomatis, jadi persediaan air tidak terputus. Kita tidak menggunakan listrik lagi, kita memakai gaya gravitasi bumi.
Hari ini, Bumdes kita, 1 kubik air hanya dijual Rp1.500 saja. Insya Allah, Bumdes kita bisa untung Rp120 juta per tahun dari menjual air itu saja.

Apa yang menjadi kesulitan dalam mengelola masyarakat banyak?

Hairan: Alhamdulillah, di desa saya itu 99 persen Jawa. Jadi memang, Jawa ini mau hidup rukun. Apa yang diprogramkan, mereka dukung. Dulu, mayoritas pendapatan mereka itu dari karet alam, sementara waktu itu harganya jauh di bawah harga pasar. Saya berpikir agar masyarakat tidak lagi menjual dalam bentuk karet. Waktu itu saya ke Palembang, mencari balai riset.

Melalui balai riset untuk peningkatan mutu karet, saya menganggarkan dana desa untuk melatih 30 orang dengan sumber daya yang ada. Satu bulan, untuk makan-minum sampai bayar insentif pelatih hanya Rp60 juta. Seluruh karet yang ada di sepeda motor, akhirnya mereka bisa bikin. Cuma waktu itu kendalanya anggaran mesinnya luar biasa, sehingga belum mampu dibantu dengan dana desa yang ada.

Akhirnya kami minta bantuan dengan pemerintah provinsi. Oleh pemerintah provinsi, masyarakat desa diminta untuk pelatihan dulu di Cina dan India. Alhamdulillah, mereka sudah magang di Cina dan India. Namun, karena ada kendala, sehingga program itu agak mandek.

Hairan, Wakil Vupati Tanjung Jabung Barat dalam satu kesempatan.
Hairan, Wakil Vupati Tanjung Jabung Barat dalam satu kesempatan. (tribunjambi/samsul bahri)

Apa kunci sukses yang bisa dibagi?

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
450 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved