Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh, Ramadhan dan Lebaran Pertama Berpisah dengan Anak (habis)

Pandemi Covid-19 membuat sejumlah aktivitas selama bulan suci Ramadhan terbatas. Hal itu juga dialami Ratu Munawaroh

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi.com
Ratu Munawaroh ketika berkunjung ke redaksi Tribunjambi.com beberapa waktu lalu. Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh, Ramadhan dan Lebaran Pertama Berpisah dengan Anak 

Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh, Ramadan dan Lebaran Pertama Berpisah dengan Anak (habis)

TRIBUNJAMBIWIKI.COM - Pandemi Covid-19 membuat sejumlah aktivitas selama bulan suci Ramadhan terbatas.

Hal itu juga dialami satu di antara tokoh politik sekaligus calon wakil gubernur Jambi, Ratu Munawaroh.

Bagaimana aktivitasnya selama Ramadan ini? Apa yang berbeda dengan Ramadan sebelumnya? Berikut petikan wawancara Tribun Jambi bersama Ratu Munawaroh.

Saat ini kita masih dalam suasana bulan puasa. Di sisi lain, kita semakin mendekati hari pemungutan suara ulang (PSU). Aktivitas apa yang Ibu lakukan pada masa-masa seperti ini?

Ratu: Sejak pengumuman PSU Maret lalu, kita ditetapkan akan melakukan pemilihan suara ulang dan sudah diputuskan tidak boleh kampanye, sehingga tidak ada aktivitas kampanye yang kita lakukan. Berkenaan dengan bulan suci Ramadan ini, terlebih karena adanya kasus Covid-19, ini juga memaksa kita untuk patuh, untuk tidak melakukan aktivitas-aktivitas ke luar. Aktivitas ke luar hanya seperlunya saja. Saya sendiri pun memang stay at home, memilih di rumah saja. Jika ada keperluan apa pun, secara virtual saja. Itu akan jauh lebih baik.

Selama bulan puasa lebih banyak di rumah ya, Bu?

Ratu: Terus terang saat awal Ramadhan saya sempat Salat Tarawih di masjid, tiga hari, karena kangen banget. Saya sejak kecil sampai sebelum menikah, Salat Tarawih itu diimami oleh ayah saya. Itu memang suatu momen yang sangat mengesankan dan dirindukan. Tapi berhubung melihat tidak physical distancing di masjidnya, kemudian juga melihat grafik Covid-19 di Kota Jambi semakin naik, saya putuskan salat di rumah saja. Tadinya rencananya 10 hari terakhir pengin iktikaf, tapi melihat kondisi, saya memilih di rumah saja. Lagi pula itu bukan suatu hal yang diwajibkan.

Di sisi positifnya itu merupakan kerinduan orang ke masjid. Itu hal yang sangat baik. Tapi dalam konteks di sini, kita harus memilih harus di rumah atau di masjid.

Apa yang membedakan puasa di masa Covid-19, dengan puasa di masa sebelum Covid-19?

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved