Wawancara Eksklusif Tagor Mulia Nasution, Sungai di Jambi Kondisinya Sudah Memprihatinkan

Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) kemudian dihadirkan Kementerian Kehutanan pada 2013 lalu untuk bekerja sama menangani daerah aliran sungai

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi.com
Tagor Mulya Nasution (kanan) saat dikukuhkan menjadi Ketua Forum DAS Provinsi Jambi. 

Tagor: Kalau kompleksitas masalah hulu dan hilir ini tentu berbeda, karena kalau hilir masalahnya itu memang ada juga pemanfaatan lahan yang sampai ke pinggir sungai, MCK yang sangat besar sekali pengaruhnya terhadap bakteri, dan pembuangan sampah ke sungai.

Kalau di daerah hulu tidak seperti itu, karena mereka rata-rata bermukimnya tidak di pinggir-pinggir sungai. Mereka lebih banyak menebang hutan dn menanaminya dengan tanaman monokultur. Ini sudah mulai diinisiasi oleh Kementerian LHK dengan menggabungkan tanamam produktif ditambah dengan kayu, sehingga kita harapkan tutupan lahan itu akan semakin tinggi dan serapan air hujannya pun akan semakin besar.

Tribun: Kalau untuk sedimentasi, seperti apa di Sungai Batanghari

Tagor: Kita bukan fokus ke sedimentasi, tapi kita juga ada ahli sedimentasi dari Unja dan Unbari. Menurut mereka, sedimentasi yang sudah sangat tinggi. Kita melihat adanya pendangkalan. Kalau kemarau, tampak pulau-pulau pasir. Itu adalah sedimentasi yang tinggi. Sehingga, sekarang tidak ada lagi jalan kapal, untuk tongkang saja kadang tidak bisa lagi. Akibatnya, biaya kebutuhan masyarakat Jambi tinggi, karena barang-barang harus dibawa ke darat. Padahal dulunya pakai kapal bisa masuk ke Sungai Batanghari. Makanya saya bilang, kalau ini kita biarkan ke depan akan lebih parah lagi, bisa jadi kenangan saja Sungai Batanghari ini. Ini tidak bisa kita biarkan.

Tribun: Apa tantangan bagi Forum DAS untuk penanganan sungai di Jambi ke depannya?

Tagor: Tantangan ke depan ini, bagaimana kita meyakinkan tokoh-tokoh masyarakat  kemudian anggota anggota dewan, karena anggota dewan ini kan representasi dari masyarakat. Inilah bagaimana mereka juga harus satu pemikiran dengan kita. Jangan terlalu menokohkan bahwasanya ini kebutuhan masyarakat, padahal sebenarnya tidak.

Masyarakat dulu bisa tenang, tetap sejahtera, anak-anaknya sehat mandi di sungai itu, tidak justru seperti sekarang. Dengan adanya PETI, apakah masyarakat kita kaya? Padahal tidak. Masyarakat seperti itu saja, biasanya justru cukong-cukong yang kaya.

Baca juga: Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh Bangkit dari Keterpurukan: Kita Punya Allah Bukan Siapa-siapa (1)

Baca juga: Tanjab Barat Punya Beras Lokal Hasil Petani Diberi Nama Dua Kerang, Seluruh ASN Diwajibkan Beli

Oleh karena itu, kami melalui Forum DAS  mencoba bagaimana memberikan pencerahan kepada masyarakat agar masyarakat jangan berpikir jangka pendek saja, bagaimana lingkungan ke depan, bagaimana anak cucunya.

Tribun: Apa pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat yang menilai mendengarkan tayangan ini?

Tagor: Pada kesempatan ini saya sebagai Ketua Forum DAS Provinsi Jambi mengajak, mari kita lestarikan lingkungan kita dengan melaksanakan kegiatan harus memikirkan dampak negatifnya. Jangan hanya melaksanakan kegiatan dengan berpikir untuk pendek, tapi ke depannya akan merugikan anak cucu kita. Saya mengajak kita untuk bekerja untuk pelestarian lingkungan.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
431 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved