Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh Bangkit dari Keterpurukan: Kita Punya Allah Bukan Siapa-siapa (1)

Setiap orang pernah merasa berada di titik terendah. Hal sama juga dialami politisi perempuan asal, Ratu Munawaroh.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi.com
Ratu Munawaroh ketika berkunjung ke redaksi Tribunjambi.com beberapa waktu lalu. Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh Bangkit dari Keterpurukan: Kita Punya Allah Bukan Siapa-siapa (1) 

Saya selalu memimpikan, anak-anak saya menikah, beliaulah yang hadir. Sehingga, ketika akhirnya beliau tidak ada, saya bertanya kenapa, kenapa.

Ketika beliau meninggal dan posisi saya tidak di samping beliau, saya sangat bertanya-tanya, kenapa. Apa pun dari Allah itu yang terbaik, seiring waktu saya bisa menerima. Tidak berapa lama, suami saya Bapak Zulkifli Nurdin sakit dan setahun kemudian beliau meninggal. Di situ saya berpikir beliau akan sehat, dan saya akan rawat beliau. Saat di ICU dokter memanggil, saya tidak curiga. Saya pikir mungkin mau jelaskan obat apa, karena saya bilang kepada Kepala ICU, apa pun yang terbaik tolong dilakukan. Waktu itu dokter jelaskan mereka sudah lakukan segala hal, tapi bapak tidak juga membaik. Saya kaget, tidak mungkin, saya yakin masih ada waktu, masih ada cara. Sampai akhirnya saya sadar ketika keponakan, saya bilang, "tante masih mau merawat om, Debi."

Sampai akhirnya dia bilang, "Tante, Yang Punya sudah mau ambil." Di situ saya termenung dan, "iya, ya. Kita ini punya Allah. Kita bukan punya siapa-siapa."

Di situ saya tersadar dan cepat-cepat kembali ke ICU, temani almarhum, membisikkan ke telinga beliau kalimat-kalimat tauhid, kalimat-kalimat baik, sampai akhirnya beliau menghadap Yang Mahakuasa.

Intinya, memang kita perlu waktu untuk menerima apa pun itu. Bagi saya, semua hal itu baik. Namun karena kekurangan ilmu kita sebagai manusialah memahami bahwa itu sesuatu yang jelek, padahal hanya caranya saja.

Terus terang dua bulan setelah suami saya meninggal saya masuk rumah sakit, karena sakit. Saya juga bolak-balik ke dokter sampai satu tahunan. Sekali ke dokter itu, saya disuntik sampai 20 suntikan. Saya saat itu sampai tidak mau menangis, karena ketika mau menangis, kepala saya sudah sakit duluan. Setelah saya searching, baca-baca, penyakit itu ternyata berasal dari hati kita. Kembali lagi, bagaimana kita mengimani bahwa apa saja yang terjadi dalam hidup kita itulah yang terbaik di mata Allah.

Bagaimana Ibu bisa keluar dari keterpurukan itu?

Ratu: Ibu saya sudah tahu karakter saya. Ketika ada masalah saya akan mengurung diri di kamar sampai berhari-hari, tidak mau dihubungi. Saya tidak mau ditegur, tidak mau bicara dengan siapa pun. Saya hanya bicara dengan diri saya sendiri. Healing saya memang seperti itu. Lalu bagaimana caranya untuk semua kembali, itu iman. Kembali lagi, saya percaya Allah tidak akan pernah salah. Allah itu mustahil tidak baik, mustahil kejam.

Yang tidak baik itu kita kok. Kita yang tidak mau terima kenyataan. Kita kan impiannya dunia saja. Toh, sebetulnya orang yang meninggal itu pada dasarnya tidak meninggal, cuma pindah alam. Itu yang kemudian terkadang buat saya berbicara, saya mohon kepada Allah, bukakan hijab itu supaya dia dengan perkataan saya. Mungkin lucu pada sebagian orang, tapi saya yakin. Sama halnya kadang saya kangen sama apak (ayah) saya. Saya bilang, "Apak, saya kangen, pengin salat sama-sama lagi." Tapi akhirnya saya sadar, apak sudah tenang di sana. Saya hanya minta didoakan.

Namanya fase hidup itu pasti ada senang, pasti ada susah. Tapi bagi saya, fase senang-susah itu kan versi kita. Kita tidak tahu versinya Allah seperti apa. Bisa jadi versi terburuk kita, di mata Allah itu versi terbaik, karena di versi terburuk itulah kita sering sebut nama Allah, sedangkan ketika senang kita sering lupa. Jadi, saya selalu, apa pun yang terbaik di mata Allah, itulah yang terbaik.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved