Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh Bangkit dari Keterpurukan: Kita Punya Allah Bukan Siapa-siapa (1)

Setiap orang pernah merasa berada di titik terendah. Hal sama juga dialami politisi perempuan asal, Ratu Munawaroh.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi.com
Ratu Munawaroh ketika berkunjung ke redaksi Tribunjambi.com beberapa waktu lalu. Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh Bangkit dari Keterpurukan: Kita Punya Allah Bukan Siapa-siapa (1) 

Wawancara Eksklusif Ratu Munawaroh Bangkit dari Keterpurukan: Kita Punya Allah, Bukan Siapa-siapa

TRIBUNJAMBIWIKI.COM - Setiap orang pernah merasa berada di titik terendah. Hal sama juga dialami politisi perempuan asal, Ratu Munawaroh.

Ratu Munawaroh menceritakan titik terendahnya dan bagaimana dia bangkit dari keterpurukan itu, dalam wawancara ekslusif bersama tribunjambiwiki.com berikut ini.

Pernahkah merasa pada titik paling rendah, dan bagaimana menghadapinya sehingga bangkit lagi?

Ratu: Setiap orang mengalami fase itu, termasuk saya sendiri. Ada beberapa fase yang membuat saya terpuruk. Salah satunya saat almarhum ayah meninggal, karena saya sangat dekat dengan beliau. Sempat beberapa waktu saya mengurung diri di kamar saja, walau ada beberapa kegiatan, saya bilang ke almarhum suami saya kalau saya tidak mau ikut. Saya sangat dekat dengan almarhum ayah saya.

Dulu, saat Ramadan, beliau imam selama sebulan penuh. Ayah saya punya suara yang merdu. Makanya, anak-anak saya waktu kecil, kalau tiba waktunya salat berjemaah itu mengejar ayah saya. Itu sangat berkesan.

Beliau orang yang sangat luar biasa yang mengajarkan saya untuk melakukan segala sesuatunya karena Allah. Saya melihat di tengah keterbatasannya--ayah saya seorang guru--masyarakat di sekitar kami kalau ada apa-apa meminta pada beliau, bertanya pada beliau, sampai bupati pun kalau ada masalah datang ke rumah ayah saya.

Di situ saya mendapatkan pelajaran bahwa nilai-nilai kehidupan yang menenangkan itu bukan dari banyaknya harta, tapi bagaimana kebesaran jiwa. Makanya, ketika saya menikah pun, saya harus punya mental untuk masuk di kehidupan yang baru.

Rentang saya menikah dan suami menjadi gubernur hanya dua tahun, sehingga saya harus siap bagaimana menjadi pemimpin perempuan di Provinsi Jambi. Beliau memberikan nasihat, sebagai seorang santri, beliau mengiringi dengan dalil-dalil yang sangat menguatkan. Jadi, kalau teleponan itu kami bisa sampai dua jam.

Ketika beliau sakit dan meninggal, itu sangat memukul saya. Saya sempat berdoa, "Ya Allah, jangan panggil ayah saya duluan. Panggil saya dulu pulang, baru ayah saya."

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved