Peran Dewan Milenial dalam Pembangunan Daerah, Masyarakat Benci dengan Janji-janji Palsu

Menjadi anggota dewan sejak usia 23 tahun pada 2019 lalu membuat Satria Tubagus Ryan Hermawan harus menghadapi sejumlah tantangan.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Satria Tubagus Ryan Hermawan (kanan) saat hadir di acara Mojok Tribun. Peran Dewan Milenial dalam Pembangunan Daerah, Masyarakat Benci dengan Janji-janji Palsu 

Tubagus: Alhamdulillah, selama hampir dua tahun duduk di komisi III, banyak usulan masyarakat yang saya sampaikan, banyak realisasi yang dilakukan di desa-desa, seperti lampu jalan di Desa Adijaya. Dalam waktu dekat juga ada pemasangan pipa PDAM di Desa Teluk Bengkah. Lampu jalan di Desa Suka Damai, Sungai Keruh juga.
Masyarakat tahu, Pak Satria atau Tubagus itu tidak ingkar janji, mendengar aspirasi masyarakat.

Untuk kesejahteraan sosial, ruang lingkupnya cukup luas. Apa yang Abang lakukan untuk kesejahteraan sosial di Tanjab Barat?

Tubagus: Kalau kesejahteraan sosial, kemarin ada teman-teman di Komisi III juga mengusulkan kenaikan insentif untuk guru-guru madrasal aliyah, tsanawiyah, diniyah, dan takmiliyah. Kami naikkan insentifnya. Mudah-mudahan dengan kenaikan insentif bisa membantu guru-guru. Itu kan bagian dari sosial juga

Di dewan ada program reses. Apa yang jadi keluhan masyarakat juga menjadi keinginan yang kita perbaiki?

Tubagus: Apa yang disampaikan masyarakat juga menjadi keinginan yang ingin kita perbaiki. Ketika reses, aspirasi itu kita tampung. Kita sampaikan ke pemerintah.

Selama dua tahun sudah mempelajari peraturan di Tanjab Barat. Ada tidak, Perda yang diubah atau diperbaiki?

Tubagus: Saya belum mengusulkan, karena apa yang saya usulkan semuanya sudah masuk di Bapemperda. Usulan yang saya temui di masyarakat sudah tercantum dalam Bapemperda.

Ada beberapa poin Bapemperda yang saya usulkan agar segera dijadikan Perda. Misalnya, parit air minum dan gelandangan, jangan sampai mengganggu ketertiban sosial.

Apa solusi yang mesti dilakukan Pemkab untuk menangani hal itu?

Solusinya nanti tercantum dalam rapat. Setelah Ranperda dibuat dan disesuaikan menjadi Perda, baru kita lihat hasilnya seperti apa.

Kalau saya berharap dapat lebih baik lagi dalam pengelolaan air minum. Kita bisa belajar dari kabupaten lain juga. Jangan sampai tarif air minum membebani masyarakat. Begitu juga dengan gelandangan, jangan sampai mengganggu ketertiban sosial. Ini perlu kita tangani dengan serius.

Ke depan, apa saja yang menjadi PR dalam pembangunan di Tanjab Barat?

Tubagus: Banyak, mulai dari jalan, air bersih, proyek vital masyarakat seperti akses ke sekolah, Puskesmas. Saya harap ini didengar juga oleh pemerintah supaya tidak ada kesan anak tiri dan anak kandung dalam pembangunan Tanjab Barat ini.

Baca juga: Safari Ramadhan Ala MUI Kota Jambi ke Masjid-masjid, Berbagi Pengetahuan Tentang Islam

Baca juga: VIDEO Denny Darko Soroti Kehamilan Nathalie Holscher

Infrastruktur di wilayah ulu yang perlu diperbaiki, sekitar berapa persen?

Tubagus: Dalam perbaikan ada sekitar 60 persen. 40 persen sudah ditangani, sisa 60 persenĀ 

Seberapa berpengaruh sih, dewan muda dalam pembangunan di suatu daerah?

Tubagus: Dewan muda sangat berpengaruh, tapi tergantung personalnya masing-masing.

Dewan milenial harus aktif, karena jarang ada kesempatan anak muda dipercaya oleh masyarakat. Jika sudah terpilih, berarti masyarakat percaya dengan kapasitas dan kapabilitasnya.

Tapi ketika tidak mendengarkan aspirasi masyarakat, berarti dia terjebak dalam zona nyaman. Harusnya kaum milenial juga harus memberi contoh bahwa anak muda bisa berbuat untuk daerah.(Tribunjambi.com/ Mareza Sutan A J)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved