Peran Airnav dalam Penerbangan Pesawat, Pengarah Navigasi hingga Ikut Tangani Insiden

Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai GM Perum LPPNPI Cabang Jambi, Nizwar terkait Air Navigation punya peran penting dalam penerbangan.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
EGM PT Angkasa Pura Jambi Yogi P. Wadi didampingi GM Airnaf Bandara Jambi Nizwar. Peran Airnav dalam Penerbangan Pesawat, Pengarah Navigasi hingga Ikut Tangani Insiden 

Nizwar: Di Jambi ada sekitar 46. Terbagi dalam operasional, teknis, dan personil administrasi dan keuangan.

Tribun: Apa saja yang menjadi tugas air traffic controller?

Nizwar: Tugasnya memberikan layanan supaya tidak terjadi kecelakaan. Itulah tugasnya di udara maupun di darat.

Mereka memberikan informasi-informasi cuaca, memberikan informasi kewaspadaan jika terjadi sesuatu atau informasi yang sangat signifikan bagi penerbangan, kemudian juga ikut serta memberikan layanan sar.

Jadi misalnya ada informasi kecelakaan itu yang turun atau karena misalnya ada Pesawat lewat kontak Airnav langsung memberitahukan kepada Basarnas. Koordinat terakhirnya di mana itu dari Airnav juga memberitahukan kepada pihak-pihak terkait.

Tribun: Apa ada pendidikan khusus untuk menjadi bagian dari Airnav?

Nizwar: Airnav tidak hanya terfokus pada kontrol, tapi juga punya teknisi-teknisi di bidang elektronik, teknik, dan navigasi. Yang berminat di bidang navigasi atau non pagi bisa menyasar ke sekolah-sekolah penerbangan.
 
Tribun: Apa saja tantangan yang dihadapi selama bertugas?

Nizwar: Dalam pekerjaan kita maunya pelayanan kita the best.  Jika sebuah alat yang bernama navigasi seperti radar atau VOR yang memberikan panduan secara vertikal dan horizontal dalam keadaan rusak, kita jadi waswas. Dalam kondisi cuaca biasa dan kondisi cuaca yang visibility-nya sangat low, adrenalin itu juga berbeda.

Baik pihak Airnav mau pun pilot sendiri dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat akan memberikan konsentrasi lebih.

Bagaimana pesawat bertumpuk karena tidak bisa mendarat, mau tidak mau kita akan memberikan yang namanya holding atau mereka akan melakukan manuver berputar-putar di udara yang bisa jadi bertingkat-tingkat.

Bisa dibayangkan, dalam kondisi cuaca yang buruk, beberapa pesawat holding. Kita berharap kondisi cuaca membaik tapi tidak seperti yang kita inginkan.

Baca juga: Ini Daftar 13 Desa di Kabupaten Tebo Bakal Dimekarkan Dijabat Kades Sementara

Tribun: Kapan kondisi seperti itu biasa terjadi?

Nizwar: Pada musim penghujan atau pada saat visibility sangat low (jarak pandang rendah), seperti musim kabut asap.

Dulu, saat Bandar Udara Sultan Thaha belum memiliki yang namanya fasilitas instrument landing system (ILS), pesawat membutuhkan visibility yang lebih lebar sehingga jika visibility itu hanya kurang dari 5 nautical miles (mil di atas permukaan laut), kita akan memberi warning kepada pesawat bahwa dia tidak bisa mendarat di Jambi. Tapi sekarang sudah ada, sehingga bisa kita pandu sampai 2 nautical miles.

Tribun: Kapan saja pilot harus berkomunikasi dengan Airnav?

Nizwar: Komunikasi dilakukan saat benar-benar dibutuhkan  misalnya mulai dia keluar dari airport. Kemudian setelah dia diberikan instruksi, dia diam dan melakukan pergerakannya. Sampai di ujung landasan, dia nanti kontak lagi. Misalnya ready for takeoff, sehingga Airnav memberikan ready for take off. Bisa juga memberikan report (laporan) pada ketinggian tertentu. Tidak ada istilah per sekian detik atau per sekian menit harus berkomunikasi.

Tribun: Belum lama ini ada insiden pendaratan darurat yang dilakukan pesawat dari sebuah maskapai di Jambi. Bagaimana peran Airnav di sana?

Nizwar: Kejadiannya adalah beberapa saat take off, pesawat itu melaporkan bahwa mereka harus kembali ke bandara lagi. Kemudian ATC bertanya ada apa dalam bahasa penerbangan. Kaptennya menjawab, mereka punya masalah. ATC menyilakan kembali ke bandara. Pilot mengambil keputusan untuk balik mendarat di Bandar Udara Sultan Thaha. 

Biasanya pilot mengatakan permasalahan lebih general, karena waktu detik per detik itu tidak sempat untuk memberikan informasi lebih detail. Yang perlu mereka lakukan adalah membereskan atau mencari tahu apa kerusakan yang terjadi.

Tidak lama menjelang pendaratan, muncul percikkan api. Sparkle, bukan fire. Sparkle itu hanya percikan api. Setelah percikkan api kami langsung melaporkan kepala unit  pemadam kebakaran bandar udara untuk melakukan pemadaman.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
421 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved