Peran Airnav dalam Penerbangan Pesawat, Pengarah Navigasi hingga Ikut Tangani Insiden

Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai GM Perum LPPNPI Cabang Jambi, Nizwar terkait Air Navigation punya peran penting dalam penerbangan.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
EGM PT Angkasa Pura Jambi Yogi P. Wadi didampingi GM Airnaf Bandara Jambi Nizwar. Peran Airnav dalam Penerbangan Pesawat, Pengarah Navigasi hingga Ikut Tangani Insiden 

Peran Airnav dalam Penerbangan Pesawat, Pengarah Navigasi hingga Ikut Tangani Insiden

TRIBUNJAMBIWIKI.COM - Air Navigation punya peran penting dalam penerbangan.

Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai GM Perum LPPNPI Cabang Jambi, Nizwar dalam wawancara khusus yang bisa disimak dalam petikan-petikan berikut.

Tribun: Airnav sebelumnya tergabung dengan bandar udara. Namun belakangan, Airnav dan airport memiliki manajemen masing-masing. Apa perbedaan wewenangnya?

Nizwar: Kami Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau yang lebih dikenal dengan Air Navigation (Airnav) Indonesia.

Berdasarkan Undang-undang nomor 1 tahun 1990, di sana diamanatkan bahwa tiga tahun setelah terbentuknya Undang-undang penerbangan, di suatu negara harus ada pelayanan navigasi secara mandiri.

Oleh karena itu, pada 13 September 2012, berdirilah Airnav Indonesia berdasarkan peraturan pemerintah nomor 77. Di sana telah dijelaskan apa saja tugas-tugas dari Airnav.

Dulunya Airnav Indonesia bagian dari Angkasa Pura II, bagian dari penyelenggara airport. Bedanya adalah, kami ini penyelenggara pelayanan navigasi, yaitu sebuah seni menggerakkan benda dari suatu titik ke titik lainnya, dalam hal ini pesawat yang dikendalikan seorang pilot.

Dalam perjalanan dari satu titik ke titik tujuannya, pasti memerlukan layanan-layanan navigasi. Itulah peran Airnav Indonesia dalam memberikan pelayanan-pelayanan navigasi tersebut.

Bentuk fasilitas-fasilitas navigasi di antaranya pemancaran sinyal-sinyal untuk memandu pesawat udara, ada juga yang namanya fasilitas telekomunikasi yang dimamfaatkan pilot di udara untuk berkomunikasi dengan petugas air traffic control (ATC).

Jadi pada saat pesawat itu dari sebuah terminal keberangkatan ketika pesawat telah didorong keluar dari garbarata sampai sebelum masuk lagi ke garbarata, itu masuk tugas Airnav. Apa lagi saat di udara, peranan Airnav Indonesia sangat penting untuk mengontrol penerbangan.

Tribun: Apakah Airnav punya kelas-kelas, misalnya berdasarkan lalu lintas penerbangan?

Nizwar: Sampai saat ini kami menyebutnya cabang. Misalnya, Airnav Cabang Jambi, ada yang di Soekarno Hatta namanya Airnav Cabang Soekarno Hatta yang juga kami sebut dengan  Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC). Perbedaannya hanya mereka melayani trafik yang lebih padat daripada kita dan fasilitas yang mereka miliki juga lebih komplet dibandingkan di Jambi.

Tribun: Berapa penerbangan (flight) yang ditangani Airnav Cabang Jambi dalam sehari?

Nizwar: Kalau dalam keadaan normal sebelum pandemi Covid-19 sekitar 40 hingga 45 movement sehari, tapi sejak pandemi ini rata-rata perhari 10 hingga 12 movement. Terjadi penurunan yang sangat drastis sejak pandemi Covid-19 ini, terutama pada bulan Mei 2020 lalu puncaknya drop, terjun bebas (jumlah penumpang).

Maret 2020 lalu presiden mengungkapkan kasus pertama positif Covid-19 ada di Indonesia, April terjadi pengurangan, kemudian Mei sangat berkurang, Juni baru ada peningkatan.

Baca juga: Husni Jamal Membuat Kompilasi Bahasa Seberang, Inventarisasi Kosakata Lebih dari 10 Tahun

Baca juga: VIDEO Denny Darko Soroti Kehamilan Nathalie Holscher

Tribun: Selain Bandara Sultan Thaha, Jambi juga ada Bandara Muara Bungo dan Bandara Depati Parbo. Apa setiap bandara memiliki Airnav masing-masing?

Nizwar: Sudah pasti, karena yang namanya pelayanan navigasi di semua bandara itu pasti ada. Hanya saja pelayanannya berbeda-beda. Kalau di Bandara Sultan Taha Jambi Airnav memiliki petugas air traffic control. Kalau di Bandara Muara Bungo dan Kerinci (Depati Parbo), mereka cukup dengan petugas komunikasi penerbangan seperti biasa.

Bedanya adalah kalau ATC itu positif kontrol. Artinya, kalau ATC memberikan instruksi atau perintah kepada pilot, pilot akan menurut instruksinya. Tapi kalau di Muara Bungo ataupun Kerinci, lebih kepada informasi-informasi saja. Penentuan langkah tetap di tangan pilot. 

Tribun: Terkait SDM, di Jambi ada berapa orang yang ada di Airnav Indonesia ini?

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
421 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved