Kisah Sukses

Sukses Menjadi Pengrajin Batik, Yasriwati Kini Memiliki 20 Motif Khas Tanjung Jabung Timur

Belajar secara autodidak Yasriwati atau ibu Yas (65) beralih profesi menjadi pengrajin batik. Yasriwati memiliki 20 motif batik khas Tanjab Timur

Editor: Rahimin
tribunjambi/abdullah usman
Yasriwati menunjukan motif batik yang dibuatnya. Sukses Menjadi Pengrajin Batik, Yasriwati Kini Memiliki 20 Motif Khas Tanjung Jabung Timur 

Sukses Menjadi Pengrajin Batik, Yasriwati Kini Memiliki 20 Motif Khas Tanjung Jabung Timur

Laporan wartawan Tribunjambi.com, Abdullah Usman 

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, MUARA SABAK - Belajar secara autodidak Yasriwati atau ibu Yas (65) beralih profesi menjadi pengrajin batik.

Kini, Yasriwati memiliki 20 motif batik khas Tanjung Jabung Timur. 

Dikatakannya, banyak perjalanan yang telah dilalui sebelum akhirnya mahir menjadi pengerajin batik.

Yasriwati mengatakan, menggeluti dunia batik tersebut mulai dilakoni sejak 2015 lalu.

Baca juga: Tebo Dijadwalkan Jadi Tuan Rumah Event Panjat Tebing se-Provinsi Jambi

Baca juga: Maret 2021 Intensitas Hujan di Provinsi Jambi Mulai Naik, Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

Saat itu, dia menggeluti kerajianan tas. Bahkan sempat mendapat penghargaan sebagai pengerajin keterampilan dari Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin pada 2004.

Diakuinya, beralih menjadi pembatik, karena bahan baku untuk membuat kerajinan dari lidi-lidian dan tanaman rumbai mulai susah dicari.

Ditambah banyak pula anak buah yang sudah berkeluarga dan pindah. 

"Karena sudah menyukai seni, akhirnya mencoba seni membatik hingga akhirnya mendalami batik hingga saat ini," ujarnya.

Yasriwati menunjukan motif batik yang dibuatnya.
Yasriwati menunjukan motif batik yang dibuatnya. (tribunjambi/abdullah usman)

20 motif batik yang dimiliki saat ini diantaranya, batik bakau, kerang, nyumbun, perahu, jeruju dan lain sebagainnya. Semua motif tersebut diangkat dari kearifan lokal yang ada di Tanjabtim.

"Karena memang terbang banyak motif lokal yang cukup bernilai dan unik, untuk dituangkan dalam sebuah batik," ujarnya.

Dikatakannya pula, dalam pembuatan batik tersebut semua menggunakan batik cap, dengan menggunakan bahan cap yang ditempah dari Jawa. 

"Untuk pewarnaan ada dua jenis, sintetis dan alami, dari bahan alami lebih banyak menggunakan pewarnaan dari getah tanaman dan buah seperti kulit jengkol sabut kelapa, daun kayu mahoni. Ditambah bahan bahan khusus untuk menentukan kepekatan warna dan mengunci warna," jelasnya.

" Untuk pewarnaan alami memang sedikit lebih ribet, juga membutuhkan proses cukup lama dalam pembuatannya, bisa 7 kali celup. Berbeda dengan pewarnaan biasa lebih cepat," sambungnya.

Hanya saja, untuk pemasaran masih kurang, hanya mengandalkan pesanan dan ketika ada kegiatan besar baru ada peningkatan nilai jual.

"Untuk harga jual mulai dari Rp 170 sampai Rp 300 ribuan. Pemasaran tergantung pesanan dan dititipkan di Dekranasda Provinsi," pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
374 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved