Sosok Sukses

Mengenal Lebih Dekat Candralela Sang Ratu Madu Dari Jambi, Ekspor 5 Ton Madu Perbulan ke Luar Negeri

Julukan Sang Ratu Madu sudah selayaknya disematkan ke Candralela seiring keberhasilannya mengekspor madu asli Jambi ke luar negeri.

Editor: Rahimin
tribunjambi/yon rinaldi
Candralela, Sang Ratu Madu Dari Jambi. Mengenal Lebih Dekat Candralela Sang Ratu Madu Dari Jambi, Ekspor 5 Ton Madu Perbulan  

Mengenal Lebih Dekat Candralela Sang Ratu Madu Dari Jambi, Ekspor 5 Ton Madu Perbulan 

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI – Julukan Sang Ratu Madu sudah selayaknya disematkan ke Candralela seiring keberhasilannya mengekspor madu asli Jambi ke luar negeri.

Tidak tanggung-tanggung 60 ton per tahun atau 5 ton dalam satu bulan akan dikirim ke Singapura via Batam.

Keberhasilan wanita berhijab ini bukan tanpa proses, Jatuh bangun merintis usaha madu telah dia rasakan.

Memulai berbisnis madu sejak 2018 silam, wanita yang akrab disapa Candra ini hanya menjual satu jerigen madu sialang yang dikemas menjadi beberapa botol dengan brand miliknya.

Masih mengusung brand lamanya Al Mubarok, Candra menyasar beberapa Apotek sebagai tempat dia untuk menitipkan jualan madunya.

Baca juga: VIDEO Harapan Atta Bila Sudah Menjadi Suami Aurel Bahas Soal Suami Istri, Nikita Mirzani Syok!

Baca juga: Ingin Belajar Membuat Makanan, Bisa Datang ke Dapur Mevida

Tiga bulan pertama, produknya nyaris tidak disentuh pembeli, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menarik kembali produknya.

Tidak berputus asa,  istri dari Budiarto ini kembali melemparkan produknya ke beberapa toko oleh-oleh di bandara Sultan Thaha Jambi dan outlet kuliner sampai toko oleh-oleh di Jambi.

Usahanya tersebut akhirnya membuahkan hasil, beberapa outlet yang dia titipkan melakukan repeat order.

Tidak puas sampai di situ, Candra ini terus mengembangkan pasarnya sampai ke luar Jambi.

Tidak butuh waktu lama bagi Candra untuk menemukan pasar baru, beberapa kota berhasil dia tembus. Masih di tahun yang sama datang permintaan dari Jogjakarta sebesar 24 ton setiap sebulan.

Peternakan madu di perbatasan Muaro Jambi dengan Tanjung Jabung Timur.
Peternakan madu di perbatasan Muaro Jambi dengan Tanjung Jabung Timur. (tribunjambi/yon rinaldi)

Di satu sisi penjualan di Kota Jambi terus meningkat, dari target 5.000 botol dalam sebulan, brand madu asli Jambi ini berhasil menjual 3.500 botol setiap bulan. Walaupun tidak mencapai target, namun angka ini jauh mengalami peningkatan penjualan.

Pentingnya untuk mengangkat nama Jambi, menginspirasi Candra untuk merubah brand usahanya menjadi Rumah Madu Hutan Jambi 2019 silam.

Desain produk dan kemasannya mulai diperbaiki kala itu. Pasarnya mulai diperluas, Candra mulai memasuki pasar ritel di Kota Jambi. produknya pun mulai banyak di jumpai di supermarket dan minimarket.

Hingga pada 2015, Jambi menghadapi bencana kabut asap panjang, lebah Apis Dorsata yang memproduksi madu sialang kehilangan populasinya hingga 45 persen

Baca juga: Cerita Mahasiswi Universitas Jambi Menjaga Lingkungan, Kurangi Limbah Pakaian dan Pipet Plastik

Baca juga: Ratusan Orang di Jambi Dikabarkan Tertipu Investasi Bodong dengan Skema Ponzi, Siapa Charles Ponzi?

Ditambah lagi, semenjak terjadinya kabut asap tersebut lebah menjadi tidak produktif. Sehingga madu jenis sialang ini sangat susah untuk ditemukan.

Di satu sisi penjualan Madu Hutan Jambi di beberapa pasar ritel juga mengalami permasalahan seiring masuknya brand ritel nasional di Jambi.

Banyaknya minimarket lokal yang tutup kala itu, berdampak banyaknya piutang yang tidak bisa tertagihkan dan akhirnya menghilang begitu saja.

Ujian wanita berhijab ini tidak hanya sampai di situ, satu di antara investornya kala itu ngotot minta bagi hasil keuntungan. Dia tidak percaya dengan kondisi usaha yang tidak stabil dan cenderung merugi.

Candralela, Sang Ratu Madu Dari Jambi
Candralela, Sang Ratu Madu Dari Jambi (tribunjambi/yon rinaldi)

Hingga akhirnya Candra harus ikhlas menjual mobil pribadinya untuk mengembalikan uang investasi dari rekananya tersebut.

Banyaknya permasalahan yang dia hadapi kala itu tidak membuatnya putus asa, satu persatu permasalahan yang ada dia selesaikan.

Untuk mengatasi penurunan produksi madu hutannya candra berinisiatif untuk membuat peternakan madu di Jambi.

Idenya tersebut sempat diragukan oleh Asosiasi Perlebahan Indonesia ( API ) Pusat, saat di diutarakan pada pertemuan Api 2016 silam.

Candralela menceritakan kala itu kawan-kawan dari API sempat meragukan masalah pakan.

Baca juga: Cerita Edi Sugito Kepala Desa Tanjung Lanjut Jadi Inisiator Danau Tangkas, Menolak Dikelola Investor

Baca juga: 35 Organisasi Lintas Sektor Ikuti One Billion Rising in Solidarity, Suarakan Persoalan Perempuan

“Mungkin mereka lupa, jika di Sumatra masih banyak hutan, tidak seperti di Jawa,” ujarnya beberapa hari yang lalu.

Tidak jatuh saat dikritik, Candra memulai proyek ambisiusnya. Tiga kotak bibit lebah ternak di datangkan dari tanah jawa.

Saat itu bibit lebah masih cukup murah hanya Rp 1 juta per kota. Namun, biaya kirimnya cukup menguras kantong, untuk satu kotak bibit lebah siap produksi biayanya sampai Rp 1 juta per kotak.

Dalam masa eksperimen ini, hampir semua jenis lebah di Jambi dijadikan eksperimen dalam pembudidayaan madunya ini. mulai dari trigona, cerana sampai melivera.

Untuk lebah Trigona dia melakukan uji coba budidaya lebahnya di halaman rumahnya yang berlokasi di pasir putih.

Sedangkan untuk jenis cerana dia membuka pembudidayaan di daerah kampung laut.

Hingga akhirnya dia berhasil dengan madu melifera. Yang dia kembangkan di perbatasan Muarojambi dengan Tanjung Jabung Timur.

Sedangkan untuk pemasaran, madu hutan Jambi mulai memfokuskan ke pemasaran online. Semua produk di pasar ritel ditarik semua.

Tidak tanggung-tanggung semua strategi pemasaran online diterapkan oleh Candra. Mulai dari mengunakan google bisnis, sosial media, marketplace sampai website. Bahkan konsumen bisa langsung berbelanja di situs web maduclb.com

Untuk mendukung pemasaran online tersebut Candra sampai mempekerjakan seorang admin khusus.

Setelah sempat jatuh bagun bertahun-tahun, titik balik kesuksesan Candra datang pada 2019. Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) memberikan bantuan dana hibah yang cukup besar saat itu.

Baca juga: Kawasan Pintu Masuk Jembatan Gentala Arasy Sekarang Bebas dari Pedagang Kaki Lima

Baca juga: Mengenal Asal Usul Nama Sengeti, Ibu Kota Kabupaten Muarojambi, Berasal Dari Nama Pengembara

Di satu sisi, ternak madunya juga sudah mulai menunjukkan hasil yang positif. Stok madunya perlahan tapi pasti sudah mulai stabil.

Saat ini, kotak koloni lebahnya sudah mencapai 1050 kotak, dengan target produksi di atas 10 ton per bulan.

Candra mengatakan, kedepanya jumlah kotak Koloni lebahnya akan terus bertambah, seiring banyaknya masyarakat yang ingin bergabung menjadi mitra ternak madunya.

Saat ini, candra mulai melebarkan sayapnya dengan membuka wisata edukasi 2019 silam. Namun, karena Indonesia dilanda virus corona maret 2020 lini usahanya ini harus ditunda dulu. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved