Akademisi Jambi: Ada Celah yang Dimanfaatkan Pelaku Kasus Narkotika Saat Pandemi Covid-19

Akademisi Universitas Jambi, Mochammad Farisi, LLM, menanggapi banyaknya kasus narkotika di Provinsi Jambi terungkap dalam beberapa waktu terakhir

istimewa
Mochammad Farisi, LLM (kanan). Akademisi Jambi: Ada Celah yang Dimanfaatkan Pelaku Kasus Narkotika saat Pandemi Covid-19 
Akademisi Jambi: Ada Celah yang Dimanfaatkan Pelaku Kasus Narkotika saat Pandemi Covid-19
TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI - Akademisi Universitas Jambi, Mochammad Farisi, LLM, menanggapi banyaknya kasus narkotika di Provinsi Jambi yang terungkap dalam beberapa waktu terakhir.
Ia mengapresiasi aparat penegak hukum dan Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengungkapan kasus narkotika di Jambi.
Pegiat antinarkoba sekaligus penerima penghargaan P4GN BNN RI ini menyebut, di satu sisi aparat berwenang semakin gencar melakukan pengungkapan kasus. Namun dia tidak menampik adanya kemungkinan peredaran narkoba yang justru semakin marak.
"Kalau bicara narkoba, ini terkait demand dan suply," katanya, Selasa (2/1/2021).
Untuk narkotika jenis ganja, biasanya kedapatan berasal Aceh atau beberapa daerah di sekitar Provinsi Jambi. Namun untuk narkotika jenis sabu, sebagian besar berasal luar negeri yang masuk ke Indonesia melalui jalur tikus.
Apa lagi, masih berdasarkan pendapat Farisi, bisnis narkoba dianggap sangat menguntungkan.
Farisi tidak menampik pandemi Covid-19 menjadi celah pelaku untuk melakukan pengedaran narkotika. Sebab, fokus pemerintah mau pun aparat penegak hukum terbagi.
"Covid-19 membuat pemerintah fokus pada penanganan covid, sehingga perhatian jadi longgar dan dimanfaatkan pelaku," ulasnya.
Di Provinsi Jambi, narkotika acap kali kedapatan masuk melalui jalur laut, khususnya jalur tikus. Untuk jalur darat, peredaran narkotika masuk melalui daerah-daerah perbatasan provinsi.
Jalur tersebut dipilih lantaran pengawasan relatif longgar dan pemeriksaan tidak terlalu ketat. Apa lagi, saat ini motif peredaran narkoba semakin bervariasi.
Walakin, di sini baik pemerintah mau pun aparat berwenang tetap tidak boleh lengah.
Untuk menekan peredaran narkotika, menurutnya, cara paling ampuh adalah dengan menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat.
Hal itu bisa dilakukan melalui program kampung tangguh, desa tangguh, sekolah antinarkoba, dan upaya yang mendorong masyarakat untuk mendukung pencegahan peredaran narkotika.
"Dengan begitu, nanti masyarakat sendiri yang akan menolak peredaran narkotika di daerahnya," tandasnya.
--new analisis---
Mochammad Farisi, LLM, 
Akademisi, Pegiat Antinarkoba
Pandemi Covid-19 Menjadi Celah
Terkait banyaknya pengungkapan kasus narkotika di Provinsi Jambi, kita mesti mengapresiasi aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Pengungkapan kasus narkotika tersebut, di satu sisi sebagai pertanda aparat berwenang semakin gencar melakukan pengungkapan kasus. Namun di sisi lain, bisa jadi peredaran narkoba yang semakin marak.

Baca juga: Walau Seorang Disabilitas, Rita Yana Tetap Semangat Untuk Produksi Souvenir Untuk Kawinan

Baca juga: Galang Dana Peduli Bencana Dari Komunitas Motor Honda PCX Jambi

Baca juga: Ary Darma Harahap Nekat Berhenti Kerja Hanya Untuk Buat Usaha Sabun Cuci Tangan dan Piring di Jambi

Kalau bicara narkoba, ini terkait demand dan suply. Artinya, masuknya narkotika di Provinsi Jambi tergantung dengan permintaan yang ada. Apa lagi, bisnis narkoba dianggap sangat menguntungkan.
Untuk narkotika jenis ganja, biasanya kedapatan berasal Aceh atau beberapa daerah di sekitar Provinsi Jambi. Namun untuk narkotika jenis sabu, sebagian besar berasal luar negeri yang masuk ke Indonesia melalui jalur tikus.
Kondisi ini juga dipengaruhi pandemi Covid-19 yang menjadi celah pelaku untuk melakukan pengedaran narkotika. Sebab, fokus pemerintah mau pun aparat penegak hukum terbagi.
Pandemi membuat pemerintah fokus pada penanganan Covid-19, sehingga perhatian jadi longgar dan dimanfaatkan pelaku. Namun, baik pemerintah mau pun aparat tidak boleh lengah.
Di Provinsi Jambi, narkotika acap kali kedapatan masuk melalui jalur laut, khususnya jalur tikus. Untuk jalur darat, peredaran narkotika sering ditemui masuk melalui daerah-daerah perbatasan provinsi. Jalur tersebut dipilih lantaran pengawasan relatif longgar dan pemeriksaan tidak terlalu ketat. Apa lagi, saat ini motif peredaran narkoba semakin bervariasi.

Baca juga: Menanti Berdiri Megahnya Menara 9, Gedung 12 Lantai Milik Bank Jambi

Baca juga: M Fadhil Arief Bicara tentang Gebrakan Baru, Akan Bentuk UPT buat Milenial di Batanghari (habis)

Baca juga: Cara Daftar dan Syarat-syarat Menjadi Bintara TNI AD 2021 untuk Lulusan SMA/SMK

Untuk menekan peredaran narkotika, cara paling ampuh adalah dengan menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat.
Hal itu bisa dilakukan melalui program kampung tangguh, desa tangguh, sekolah antinarkoba, dan upaya yang mendorong masyarakat untuk mendukung pencegahan peredaran narkotika. Dengan begitu, nanti masyarakat sendiri yang akan menolak peredaran narkotika di daerahnya. (are)
Ikuti kami di
Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
Sumber: Tribun Jambi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved