Warisan Budaya

Mengenal Tari Besayak, Warisan Budaya Tak Benda Asal Kabupaten Merangin

Pagelaran Malam Gelar Seni Tradisi dan Anugerah Budaya Jambi berlangsung pada Rabu (6/1/2021) malam.

tribunjambi/mareza sutan
Tari besayak, tarian tradisional yang berasal dari Desa Air Batu, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin. Mengenal Tari Besayak, Warisan Budaya Tak Benda Asal Kabupaten Merangin 

Kemendikbud, melalui laman kebudayaan.kemendikbud.go.id menyebutkan, tari besayak dapat dikategorikan sebagai tari bebancian.

Penyebutan itu didasari karena tarian itu dibawakan oleh laki-laki, tapi dalam olah dan gerak tarinya menirukan gerakan perempuan, termasuk kostumnya.

Hal ini dikaitkan dengan filosofi bahwa; pertama, perempuan tidak diizinkan menari dan dilihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya; kedua, untuk menghindari wanita diambil oleh penjajah pada saat itu, maka peran penari wanita digantikan oleh laki-laki.

Konon, tarian ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Tarian ini terakhir kali ditampilkan pada 1970, sampai akhirnya kembali ditampilkan pada 2013.

Tari besayak atau sayak ditampilkan sebagai hiburan pada saat ada acara di desa, seperti lebaran, upacara adat, dan acara lainnya.

Pembawaan tarian ini oleh laki-laki bukan tanpa alasan.

Menurut Mat Rasul, dikutip dari laman kebudayaan Kemendikbud, ini berhubungan dengan zaman penjajahan dahulu, di mana keberadaan wanita diupayakan untuk tidak dihadirkan di depan umum.

Selain itu, masih adanya pandangan tentang tidak pantasnya seorang wanita dilihat atau ditonton oleh yang bukan muhrimnya juga menjadi alasan tarian itu hanya dibawakan oleh laki-laki.

Baca juga: Daftar Rumah Sakit Umum dan Puskesmas di Sarolangun, Cek Lokasinya

Baca juga: Daftar Pengadilan Negeri di Provinsi Jambi, Alamat dan Penanganan Hukumnya

Penari akan mengenakan kostum berupa baju kurung dan kain sarung. Tidak lupa juga kain yang diikatkan di kepala dan dijuntaikan di salah satu sisinya.

Tarian ini dibawakan dengan gerakan-gerakan seserhana yang diserasikan dengan suara musik pengiring dan tempurung.

Mat Rasul adalah keturunan pencipta tari besayak yang masih melestarikan tarian ini. Dia terus mengajarkan tarian ini ke generasi muda dan anak-anak di sekitar desanya.

Dia menerima penganugerahan pada Malam Gelar Seni Tradisi dan Anugerah Budaya Jambi. Kegiatan itu merupakan satu rangkaian dari perayaan hari ulang tahun Provinsi Jambi ke-64.

Ikuti kami di
Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
Sumber: Tribun Jambi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved