Sukardi Gau dan Kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, Sepotong Kisah Kepala Kantor Bahasa Jambi

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mengikat, yang menjadi pemersatu dari 718 bahasa daerah yang ada di Indonesia

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
Tribunjambi/widyoko
Kepala Kantor Bahasa Jambi, Sukardi Gau. Sukardi dan Kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, Sepotong Kisah Kepala Kantor Bahasa Jambi 

Sukardi dan Kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, Sepotong Kisah Kepala Kantor Bahasa Jambi

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI - Bagi Sukardi Gau, bahasa Indonesia bukan sekadar sarana berkomunikasi.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mengikat, yang menjadi pemersatu dari 718 bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Dia ingat penuturan pembimbingnya lebih dari satu dekade lalu. Pembimbing berkewarganegaraan Amerika itu salut, di Indonesia ada satu bahasa pemersatu yang, jika diterapkan di mana pun di negeri ini, masyarakat bisa paham.

"Itulah bahasa Indonesia. Satu-satunya bahasa yang mengikat kita saat ini, ya bahasa Indonesia," katanya, saat menyambangi Tribun Jambi, Senin (4/1/2021).

Baca juga: Wawancara Ekslusif dengan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Susun Kamus Bahasa Jambi

Baca juga: HUT ke-64, Begini Sejarah Terbentuknya Provinsi Jambi, Mekar dari Sumatera Tengah

Baca juga: Daftar Rumah Sakit Umum dan Puskesmas di Sarolangun, Cek Lokasinya

Sukardi Gau kini diamanahkan sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi. Sebelumnya, pria asal Makassar itu sudah makan asam garam di tiga provinsi pada tiga pulau besar yang berbeda.

Latar pendidikannya di bidang linguistik juga mendukung kariernya dalam tugas dan amanah. Rasa cintanya terhadap bahasa Indonesia tertanam sejak lama.

1993, Sukardi berkuliah di jurusan bahasa Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Pendidikannya berlanjut hingga S2 di sana.

Pada 2001, dia mendapat amanah pertamanya di wilayah timur Indonesia, tepatnya Provinsi Papua hingga 2009. Kariernya kemudian berlanjut di Kantor Bahasa Gorontalo, sejak 2009 hingga 2020.

September 2020 lalu, itulah pertama kali kakinya menapak di Provinsi Jambi.

"Kalau dilihat di peta Indonesia, saya dari dari timur, tengah, sekarang saya di wilayah barat," selanya.

Punya pengalaman di berbagai daerah membuat Sukardi paham banyak dialek. Dia seorang penutur Melayu Makassar, besar, tumbuh, dan berkembang dengan bahasa itu.

Berpindah ke Papua membuatnya harus beradaptasi dengan dialek Papua. Sama halnya ketika Sukardi pindah tugas ke Gorontalo.

Baca juga: Daftar Pengadilan Negeri di Provinsi Jambi, Alamat dan Penanganan Hukumnya

Baca juga: Batik Jambi, Warisan Budaya Lokal sejak Abad ke-19, dari Sejarah Hingga Perkembangannya

Baca juga: Rumah Adat Jenang Moeh Noeh Bercirikan Khas Budaya Melayu-Jawa, Berdiri Megah di Batanghari 

Ketika tiba di Jambi dia melihat beberapa kesamaan dialek dengan semenanjung Malaysia. Sekitar lima tahun dia di sana, sembari menyelesaikan studi S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Sukardi menyadari, banyak kekayaaan kosa kata yang menjadi keanekaragaman bahasa negeri ini.

Dia ambil contoh, pronomina di wilayah Sulawesi Selatan. Kata 'kita' dalam Melayu Makassar artinya 'anda' bukan seperti yang lazim dikenal. Jadi, ketika seorang Makassar bertanya, 'kita tinggal di mana?' itu maksudnya 'anda tinggal di mana?'.

Di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tengah, kata 'kita' justru berarti 'saya'. Ketika seorang Manado bilang, 'kita pe rumah' itu maksudnya 'rumah saya'.

Baca juga: Nama-nama Wali Kota Jambi dari Tahun ke Tahun, Sejak 1946 Hingga Sekarang

Baca juga: Alamat Kantor Polisi di Provinsi Jambi, dari Polda hingga Polres di Kabupaten/Kota

Hal sama juga dialaminya ketika tugas di Papua. Kini di Jambi, dia pun merasa banyak hal menarik untuk dipelajari.

"Ada perbedaan yang menarik, menurut saya, dari sisi sosiolinguistik," ujarnya.

Jambi, bagi Sukardi, punya akar yang kuat, baik dari sisi historis mau pun keragaman bahasa. Ada keragaman suku, bahasa, dan budaya yang berkumpul di sini.

Saat ini, dia bersama Kantor Bahasa dan pemerintah daerah tengah berupaya agar bahasa daerah tetap lestari dan menjadi khazanah kebudayaan.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved