Rumah Adat

Rumah Adat Jenang Moeh Noeh Bercirikan Khas Budaya Melayu-Jawa, Berdiri Megah di Batanghari 

Sebagian desa di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi masih menyimpan rumah tua dengan arsitektur yang orisinal. 

tribunjambi/musawira
Rumah adat Jenang Moeh Noeh khas akan arsitektur. Ini penampakan rumah adat di Batanghari berpenampilan Melayu-Jawa, Sabtu (2/1/2021). Rumah adat Jenang Moeh Noeh BercirikanKhas Budaya Melayu-Jawa, Berdiri Megah di Batanghari  

Rumah adat Jenang Moeh Noeh Bercirikan Khas Budaya Melayu-Jawa, Berdiri Megah di Batanghari 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Musawira

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, MUARABULIAN- Sebagian desa di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi masih menyimpan rumah tua dengan arsitektur yang orisinal. 

Rumah adat tradisional di Desa Mata Gual, Dusun 01 RT 01, Kecamatan Batin XXIV memiliki nilai historis yang kental.

Masyarakat batanghari mengenalnya Rumah adat Jenang Moeh Noeh.

Baca juga: Nama-nama Wali Kota Jambi dari Tahun ke Tahun, Sejak 1946 Hingga Sekarang

Baca juga: Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19, Amati Proses Tumbuh Kacang Hijau Lewat Daring

Pertama kali pada 1815, rumah ini didirikan Moeh Noeh dengan kedua istrinya, Rafiah dan Loyah Kapeh.

Jenang Moeh Noeh sendiri berasal dari Yogyakarta dan istrinya Rafiah berasal dari Negara Malaysia.

Rumah Adat Tradisional Moeh Noeh pernah dijadikan tempat tinggal oleh generasi ke IV mantan Gubernur Jambi Hasip Kalimuddin Syam. Masa pemerintahan Abdurrahman Sayoeti periode 1994-2005.

Rumah adat Jenang Moeh Noeh khas akan arsitektur. Ini penampakan rumah adat di Batanghari berpenampilan Melayu-Jawa, Sabtu (2/1/2021).
Rumah adat Jenang Moeh Noeh khas akan arsitektur. Ini penampakan rumah adat di Batanghari berpenampilan Melayu-Jawa, Sabtu (2/1/2021). (tribunjambi/musawira)

Ia pernah menjabat sebagai Bupati Batanghari periode 1980-1991 pada masa itu. Dan saat ini Ketua Lembaga Adat Melayu Jambi.

Ismet Yonono Generasi ketiga dari Moeh Noeh dan pemegang Gelar adat Datuk Setio Joyo Mulyo Pemangku Alam mengatakan, rumah adat ini pernah dilakukan pemugaran sebanyak lima kali terakhir pada 7 April 1998 oleh generasi ke IV yaitu Hasip Kalimuddin Syam.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Rahimin
Sumber: Tribun Jambi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved