Kesenian Jambi

Krinok, Kesenian Lisan Asal Jambi yang Masih Dilestarikan, Ada Sejak Zaman Dulu

Ada beragam kesenian yang ada di Provinsi Jambi. Satu di antaranya adalah krinok

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/Hendro Herlambang
Krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa prasejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. 

Krinok selalu dimainkan saat berselang, pada malam pesta pernikahan dan pada kegiatan lainnya.

Iringan musik krinok yang menarik memikat para muda-mudi untuk menari secara bebas, saling berbalas pantun untuk mengungkapkan perasaan yang sedang kasmaran.

Sejak saat itu krinok dipadukan pula dengan tari tauh yang merupakan tari pergaulan muda-mudi. Dan untuk semakin melengkapinya ditambahkan pula berbagai pantun muda-mudi sebagai lirik krinok.

Pada fase ini kesenian krinok semakin lengkap dan menarik sebagai suatu seni pertunjukan, sehingga ruang penampilan kesenian krinok semakin luas.

Krinok Terus Berkembang

Krinok, melalui proses rentang waktu yang cukup panjang, mengalami perkembangan dan terjadi pergeseran sesuai dengan pranata sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, alam dan geografis dimana krinok itu tumbuh dan berkembang.

Pada awalnya krinok disenandungkan secara spontan dengan tidak menggunakan alat musik. Namun dalam perkembangannya, ditemukan sekarang telah menggunakan alat musik. Begitu juga fungsi dan tempat pelaksanaannya telah bergeser.

Kalau awalnya disenandungkan oleh seseorang dalam mengungkap rasa sedihnya secara spontan di sawah, di kebun, atau di tempat lainnya yang sepi; kini telah dijadikan sebagai seni pertunjukan dan bahkan dapat dijadikan sebagai musik pengiring tari.

Baca juga: Smart Moms Fitri Harianti, Potty Training Percepat si Kecil Mandiri BAK dan BAB

Baca juga: Pesona Lubuk Beringin, Sensasi Wisata Sekitar Lubuk Larangan di Bungo

Baca juga: Museum Siginjei Jambi, dari Sejarah, Ragam Koleksi, Hingga Pelayanan

Seperti halnya yang ditemukan di Rantau Pandan, musik krinok dijadikan sebagai musik pengiring tari tauh.

Tari Tauh ini menggambarkan pergaulan muda mudi yang diwariskan turun-temurun dan populer di Kecamatan Rantau Pandan khususnya dan Kabupaten Bungo umumnya.

Tauh biasanya ditarikan ketika menyambut Rajo, Berelek Gedang, dan Beselang Gedang (gotong royong menuai padi). Empat pasang, laki-laki dan perempuan berpakaian Melayu menari diiringi Kelintang Kayu, Gong, Gendang, dan Biola yang mengalunkan Krinok dan pantun-pantun anak muda.

Pelestarian Krinok memungkinannya masih dapat dilihat sampai sekarang.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved