Kesenian Jambi

Krinok, Kesenian Lisan Asal Jambi yang Masih Dilestarikan, Ada Sejak Zaman Dulu

Ada beragam kesenian yang ada di Provinsi Jambi. Satu di antaranya adalah krinok

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/Hendro Herlambang
Krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa prasejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. 

Awalnya, krinok merupakan seni vokal yang sangat sederhana. Krinok hanya berupa puisi lama yang dinyanyikan sedemikian rupa dengan nada-nada tinggi dan tanpa alat musik.

Pada masa itu, krinok belum menjadi suatu seni pertunjukan seperti sekarang, melainkan sebuah seni suara yang bersifat sangat personal dan dipenuhi emosi.

Krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa prasejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini.
Krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa prasejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. (tribunjambi/Hendro Herlambang)

Saat awal keberadaannya, krinok dilantunkan oleh kaum laki-laki saat mereka bekerja di ladang atau mencari kayu di hutan. Bisa dilantunkan sendiri atau berbalasan dengan pelantun lain yang berjarak ratusan meter.

Konon, kesenian krinok generasi awal ini sempat mendapat pertentangan dari kalangan ulama. Sebab, kesenian itu dinilai kurang sesuai dengan ajaran Islam dengan lirik krinok yang pada umumnya berisi ratapan. Namun kesenian ini tetap bertahan karena dianggap memiliki fungsi tersendiri bagi masyarakat.

Pada masa itu, krinok memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai penghibur diri, untuk mengusir binatang buas, dan untuk menarik hati perempuan yang ingin dinikahi.

Karena fungsinya sebagai penghibur diri, maka tidak ada lirik krinok yang baku. Setiap pelantun bebas menyuarakan isi hati mereka, entah senang ataupun duka.

Baca juga: Surtiwi Pendawa Jati & Art Gallery Surganya Pecinta Barang Vintage

Baca juga: Gayatri Chandra, Kontestan Indonesian Idol Asal Jambi, Ingin Bermanfaat Bagi Banyak Orang

Berbeda dengan kaum laki-laki, kaum perempuan menghibur diri dengan memainkan alat musik kelintang kayu pada sela-sela waktu istirahat saat bekerja di sawah.

Kelintang kayu ini adalah alat musik tunggal yang mampu menghasilkan nada yang harmonis. Kelintang kayu dibuat sendiri oleh kaum perempuan di Rantau Pandan menggunakan beberapa potong kayu dari pohon ngkring beluka yang sudah dikeringkan.

Setelah kering, kayu dibelah dua dan dipotong menurut nada yang ingin dihasilkan. Potongan kayu tersebut disusun di atas kotak kayu persegi panjang dengan diberi alas dari ban bekas.

Uniknya, kelintang kayu hanya memiliki 6 potongan kayu sehingga hanya memiliki 6 nada.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved