Wawancara Ekslusif

Hutan Punya Nilai Ekonomi, Masyarakat Bisa Mendapatkan Benefit dari Menjaga Hutan

Pembangunan di Jambi memberikan dampak terhadap berkurangnya luasan hutan. Di sisi lain, hutan ternyata kini bernilai ekonomi.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Koordinator Liputan Tribun Jambi Suang Sitanggang saat berbincang dengan Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf 

Hutan Punya Nilai Ekonomi, Masyarakat Bisa Mendapatkan Benefit dari Menjaga Hutan

TRIBUNJAMBIWIKI.COM -  Pembangunan di Jambi memberikan dampak terhadap berkurangnya luasan hutan. Di sisi lain, hutan ternyata kini bernilai ekonomi. Masyarakat di sekitar hutan kini bisa mendapatkan benefit dari menjaga hutan.

Bagaimana bisa? Berikut penjelasan Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf dalam wawancara ekslusif bersama Tribun Jambi.

Tribun: Saat ini, tutupan luas hutan kita semakin turun. Apa ada ancaman ke depan terkait pengurangan kawasan hutan ini, dengan adanya pembangunan dan pembukaan jalan yang membelah hutan?

Rudi: Rencana pembukaan jalan-jalan dari Kerinci ke Bungo, kemudian dari Kerinci ke Bengkulu, itu berpotensi menjadi ancaman. Sebab kondisi sudah semakin sempit. Memang lagi-lagi harus kembali lihat histori. Jadi pengalaman menunjukkan memang pembukaan jalan, kalau dia membelah kawasan hutan yang tutupannya baik, perkembangannya adalah yang terjadi kerusakan hutan.

Baca juga: Historikal Hutan Jambi dari Waktu ke Waktu, di Pandangan Direktur KKI Warsi

Tribun: Apa ada contoh pembangunan yang sedang berlangsung dan sudah berlangsung?

Rudi: Contoh di Kerinci Seblat. Di situ jalan yang dibangun di dari Muara Siau menuju Muara Madras. Pada suatu lokasi tertentu, itu memotong Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Sekarang kiri-kanan jalan itu habis.
Contoh lain di sekitaran Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Di kawasan hutan produksi dibangun jalan juga untuk kepentingan pengangkutan produksi pada perusahaan. Di jalan yang dibangun, dibikin portal untuk mengamankan supaya orang luar tidak masuk, tapi pada praktiknya sekarang, kiri-kanan jalan itu sama saja.

Koordinator Liputan Tribun Jambi Suang Sitanggang saat berbincang dengan Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf
Koordinator Liputan Tribun Jambi Suang Sitanggang saat berbincang dengan Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf (tribunjambi/mareza sutan)

Tribun: Di satu sisi, pembukaan jalan tersebut merupakan pembangunan, bagaimana menurut Abang?

Rudi: Menurut saya, pembukaan jalan pada wilayah-wilayah tertentu penting, terutama untuk memfasilitasi masyarakat yang ada di wilayah tertentu. Tapi ketika jalan itu haruslah memotong kawasan hutan penting, apalagi kawasan itu berupa kawasan konservasi seperti Taman Nasional, hutan lindung.

Menurut saya, pengkajiannya harus lebih luas. Jadi, apakah nilai ekonomi yang ingin didapat dengan pembangun jalan itu seimbang dengan kerugian ekonomi yang juga bisa dihitung dari aspek konservasi, aspek keberadaan hutan alam. Kalau tidak seimbang, tentulah kita lebih memilih mempertahankan ke aspek ekonomi jangka panjang.

Tribun: Apa ada nilai ekonomi dari menjaga hutan saat ini?

Rudi: Hari ini, memelihara hutan itu bukan tidak ada aspek ekonomi, walaupun di hutan konservasi. Kita sudah lihat di awal tahun ini negara kita dibayar oleh pemerintah Norwegia ratusan miliar rupiah, termasuk Jambi mendapat bagian dari itu oleh pemerintah pusat.

Baca juga: Kisah Suhaili, Pencipta Lagu Benteng Tembesi Warisan Negri, Juara Satu Parade Lagu Daerah

Itu karena Indonesia dinilai mampu mengurangi emisi, dari sektor yang disebut pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Jadi, menjaga hutan bukan tidak ada nilai ekonomi.

Yang masih menjadi mindset, kita masih berpikir lama seolah-olah ini menjaga hutan tidak ada apa-apanya. Padahal tidak.

Tribun: Bagaimana proses itu terjadi?

Rudi: Ada aspek yang masuk kepada skema pembayaran jasa lingkungan. Itu luas yang yang bisa dapat. Salah satu contoh yang tadi saya sebut, Norwegia. Pemerintah Indonesia tahun 2010, 1 miliar USD didukung tanda tangan letter of intent nya 2010 oleh Norwegia. Jadi, hutan punya nilai ekonomi. Memang bagi orang yang ada di pinggir hutan dia melihatnya bisa tidak langsung, karena melalui negara.

Koordinator Liputan Tribun Jambi Suang Sitanggang saat berbincang dengan Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf
Koordinator Liputan Tribun Jambi Suang Sitanggang saat berbincang dengan Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf (tribunjambi/mareza sutan)

Tribun: Di wilayah dampingan KKI Warsi, bagaimana timbal balik masyarakat yang menjaga hutan?

Rudi: Seperti dikerjakan Warsi di Bujang Raba, di bukit Panjang Rantau Bayur, itu masyarakat pinggir desa hari ini merasakan manfaat dengan dia jaga hutan, mereka dapat langsung dari aspek finansial. Jadi, ada imbal jasa karbon. Kalau tadi yang saya ceritakan dari negara ke negara, nah ini sekarang dari komunitas ke komunitas.

Dihitung. Ini imbal jasa hutan di Bujang Raba ada berapa hektare, atau kalau ada sekitar 7000 hektar, kandungan karbon per hektar ada 300 ton, harga imbal jasanya itu sekarang 1 ton itu 6 USD yang didapat. Total mereka sudah menerima sekitar Rp 1,4 miliar, dengan hanya menjaga. Insyaallah, awal tahun depan, Januari, akan ada pembayaran lagi tahap berikutnya senilai Rp 1 miliar.

Baca juga: Djamin Datuk Bagindo, Acting Gubernur Provinsi Jambi saat Mekar dari Sumatera Tengah

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
193 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved