Kisah Anak Rimba

Kisah Anak-anak Rimba Belajar Pada Masa Pandemi Covid-19, Bersesandingon dan Tanpa Teknologi Daring

Anak-anak Suku Rimba di Jambi punya semangat yang tinggi dalam belajar. Mereka punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
istimewa
Anak-anak Suku Rimba saat merayakan HUT RI ke-75, 17 Agustus 2020 lalu 

Kisah Anak-anak Rimba Belajar pada Masa Pandemi Covid-19, Bersesandingon dan Tanpa Teknologi Daring

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Anak-anak Suku Rimba di Jambi punya semangat yang tinggi dalam belajar. Mereka punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Namun, selama pandemi Covid-19, bagaimana mereka belajar?

Anak-anak rimba dari Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi pada umumnya adalah anak-anak yang haus akan ilmu dan pendidikan. Mereka balajar tanpa kenal waktu.

Sukmareni, Koordinator Divisi Komunikasi KKI Warsi yang cukup lama mendampingi anak-anak rimba di Jambi menuturkan, anak-anak rimba tidak pernah mematok jam berapa harus belajar.

"Mereka cuma butuh waktu tidur yang sedikit. Jadi kadang kalau bangun tidur dan mau belajar, mereka bangunkan para pendamping, minta diajari," ujar Reni menceritakan yang pernah dialaminya di Bukit Dua Belas, sebuah sudut rimba di Kabupaten Sarolangun, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Jambi Greeneration, Komunitas Peduli Lingkungan, Ajak Masyarakat Terapkan Gaya Hidup Minim Sampah

Berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang belajar di kelas, mereka biasanya belajar secara berkelompok, sekitar lima orang di pondok-pondok yang ada di hutan atau sekitaran kebun sawit masyarakat.

Bagaimanapun, anak-anak rimba butuh ilmu. Mereka ingin belajar. Namun, pada saat pandemi seperti ini, ada ketakutan yang dirasakan orang-orang rimba. Mereka berusaha melindungi diri dari wabah, dan mengasingkan diri ke hutan.

Suku rimba biasa menyebut itu bersesandingon. Orang-orang rimba akan mengasingkan diri ke hutan, memisahkan diri dari kerumunan orang banyak, dan menjauh dari keramaian. Tujuannya, agar wabah tidak menyebar, agar mereka tidak terkena wabah.

"Mereka takut dengan wabah, karena menurut mereka, wabah itu bisa menyerang siapa saja. Jadi, kabar pandemi Covid-19 ini sudah sampai ke mereka. Makanya mereka bersesandingon, itu cara mereka melindungi diri," terang Reni.

Sayangnya, tidak ada metode pembelajaran daring di rimba. Tidak ada kelas online. Tidak ada jaringan internet di antara rimbunnya pohon-pohon.

Awal pandemi Covid-19 merebak, pembelajaran sempat terhenti. Fasilitator KKI Warsi yang berada di rimba, memilih ikut bersesandingon. Masyarakat luar sementara tidak boleh masuk.

Sesandingon adalah tradisi orang rimba untuk mengantisipasi penyebaran wabah. Tradisi ini sudah lama diterapkan masyarakat Suku Rimba. Mereka akan berpencar berkelompok, mencari tempat yang cukup berjarak dengan kelompok lain.

Itu menjadi tantangan yang berat bagi fasilitator pendidikan. Yohana Marpaung, satu di antara fasilitator pendidikan menceritakan pengalamannya mengajar anak-anak rimba.

Baca juga: Profesi yang Memungkinkan Diri Jadi Segalanya, Kisah Dokter Kiky Bertugas saat Pandemi Covid-19

Menurutnya, semua pengalaman mengajar anak-anak rimba sangat seru. Sebab, setiap anak, setiap rombongan, selalu punya perbedan-perbedaan yang unik, sehingga menjadi pelajaran tersendiri.

Namun, saat pandemi, Yohana yang akrab disapa Juana oleh anak-anak rimba ini mengakui tantangan yang dihadapi semakin berat. Dari satu rombongan ke rombongan lain, dia pernah harus jalan kaki sekitar dua jam.

Jalan kaki di hutan tidak sama dengan di kawasan perkotaan yang medannya relatif datar. Dia harus melewati kondisi medan yang tidak datar, akar-akar, tanaman menjalar, dan beraneka hayati lainnya.

Ditambah lagi kita harus bawa carier persediaan makanan, buku, dan segala hal yang digunakan untuk mengajar.

Kalau pun ada lokasi yang bisa dijangkau dengan sepeda motor, itu medannya juga sulit. Tidak jarang mereka jatuh karena melewati dataran rimba itu.

Apa lagi orang rimba hidupnya seminomaden. Mobilitasnya sangat tinggi. Misalnya, bulan ini dia ada di suatu lokasi, bulan depan belum tentu. Mereka bisa saja pindah ke tempat lain.

Meski begitu, lelah terbayar ketika melihat senyum anak-anak Suku Rimba menyambut.

"Semangat belajarnya tinggi banget. Rasa pengin tahunya juga tinggi banget. Banyak kekonyolan-kekonyolan, yang kalau kita pikirkan, seperti keajaiban," kata Juana.

Ketika sedang niat belajar, anak-anak itu akan segera mengajak fasilitator, tidak peduli kapan waktunya. Yohana mengingat, dia pernah dibangunkan pukul 02.00 WIB dini hari, diajak belajar. Mau tidak mau, dia harus menuruti permintaan anak-anak kesayangannya itu. Awalnya memang sulit, tapi lama-lama dia mulai terbiasa.

Di sisi lain, ketika sedang tidak semangat, anak-anak itu tidak akan mau belajar. Bahkan jika dirayu sekali pun. Anak rimba akan bersikukuh dengan ketidakinginan mereka.

Baca juga: Lagu Ketimun Bungkuk Sempat Populer di Jambi, Ini Sosok Penyanyi Yang Buat Hits Lagu Itu

Sebagian besar anak-anak rimba belajar di sudung. Sudung merupakan tiang-tiang kayu yang berdinding kulit kayu dan beratap daun atau terpal, yang jadi tempat rumah malam mereka.

Namun, selama masa pandemi Covid-19, orang rimba tidak berkenan langsung menerima para pendatang dari luar. Jika baru tiba dari Kota Jambi misalnya, yang jaraknya sekitar lima jam perjalanan jalur darat, Yohana akan mengasingkan diri selama beberapa hari.

Tradisi seperti itu sudah lama diterapkan orang rimba. Sama seperti karantina, mereka dilarang untuk bersosialisasi jarak dekat selama beberapa waktu.

"Saya harus ikut bersesansingon dulu. Anak-anak juga pada menjarak selama beberapa hari, sampai mereka yakin saya sehat dan saya tidak membawa virus ke sana," terang Yohana.

Selain mengajar anak-anak yang tinggal di rimba, mereka juga mengajarkan anak-anak rimba yang tinggal di desa-desa di sekitar pinggiran hutan. Sebagian anak di sana sudah belajar di sekolah formal. Namun, terkadang fasilitator pendidikan tetap memberi perhatian kepada mereka.

Baca juga: Catatan Perjuangan Dua Pahlawan Asal Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin dan Raden Mattaher

Baca juga: Jokowi Secara Resmi Langsung Beri Gelar Pahlawan Nasional Raden Mattaher dari Jambi ke Ahli Waris

Sejauh ini, ada lebih 500 anak rimba yang sudah mendapat pengajaran di sana. Di luar itu, ada sekitar 300 anak rimba yang mengenyam pendidikan di sekolah dasar.

Anak-anak rimba juga punya cita-cita. Mereka juga punya impian yang tinggi. Dan satu di antara cara mewujudkannya adalah dengan memberikan mereka pendidikan yang layak.

Saat ini, KKI Warsi juga tengah mengupayakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk masyarakat suku rimba. Meski awalnya mereka hanya belajar baca, tulis, dan hitung, tapi dari sanalah anak-anak rimba mulai memandang cakrawala. 

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
187 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved