Kisah Sukses

Kisah Yohana, Jadi Fasilitator Pendidikan Anak Rimba, Ceritakan Keseharian Hidup di Rimba

Menjadi fasilitator pendidikan bagi anak-anak Suku Rimba memberikan Yohana Pamella Berliana Marpaung pengalaman yang tidak ternilai.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Yohana Pamella Berliana Marpaung saat diwawancarai reporter Tribun Jambi 

Yohana: Pernah juga pengalaman bawa anak rimba, diundang Kementerian Pendidikan ke Jakarta. Terus kita bawa dua orang anak rimba dari taman nasional. Kita terbiasa liat lift, pintu otomatis yang terbuka sendiri. Tapi kita bawa mereka itu jadinya lucu. Itu mereka keluar-masuk-keluar-masuk di pintu mal. Siapo nang bukak pintu ake ni? (siapa yang buka pintuku ini?). Mereka seperti itulah, masih sederhana banget.

Tribun: Bagaimana semangat belajar anak rimba?

Yohana: Semangat belajarnya itu tinggi banget. Mereka selalu pengin tahu apa yang kita punya. Kalau lagi niat belajar, sesulit apa pun soal yang kita kasih walau dia tidak bisa, dia pasti minta lagi. Buat lagi sampai bisa. Tapi ketika mereka malas, sebaik apa pun kita membujuknya, dengan makanan pun,  ya sudahlah, lebih baik tidak usah makan dari pada harus belajar. Kalau lagi mood, mood banget. Kalau lagi enggak, enggak banget.

Tribun: Proses belajar-mengajar di rimba itu bagaimana, sih?

Yohana:  Mereka belajarnya, kalau yang di rimba biasanya di sudung. Itu rumah mereka. Sudung itu berupa tiang-tang kayu, yang jadi tempat rumah malam mereka. Jadi kalau zaman dulu, sudung itu tempat untuk tidur bermalam, misalnya untuk sehari atau beberapa hari. Sama seperti belajar di alam.

Pernah awal masuk warsi itu, di akhir tahun ini musim buah. Pernah lagi mengajar tiba-tiba ada durian jatuh, anak-anak tiba-tiba kabur semua . Saya datangi mereka, terus ajarkan. Ini durian. Kemudian bisa dipakai main penjumlahan, misalnya di sini biji durian ada dua, ditambah segini hasilnya segini. Jadi, segala sesuatunya bisa kita jadikan untuk pembelajaran. Apa yang ada itu harus bisa jadi bahan ajarnya.

Tribun: Ada tidak, jadwal khusus mengajar anak rimba?

Yohana: Mereka tidak ada jadwal. Tengah malam mereka mau belajar, ketika saya tidur itu mereka berani banguni saya, ajak belajar. Atau misalnya tidak bangun, mereka berani buat kerusuhan sendiri. Akhirnya saya bangun sendiri. Itu sering banget. Kita kan tahu jam. Mereka kan tidak tahu jam, tidak tahu hari, tidak tahu tanggal. Jadi kita yang terbiasa pagi bekerja, ada aktivitas sore, malam tidur, mereka tidak ada itu. Mereka, kapan mau bekerja, bekerjalah. Mau tidur, tidurlah. Kadang banguni saya, kita belajar, kita masak. Pas lihat jam, oh my God, ini masih jam 2. Awalnya sulit banget, tapi lama-lama jadi senang juga.

Baca juga: Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional, Siapa Sebenarnya Raden Mattaher? Singo Kumpeh Penentang Penjajah

Baca juga: Peran Prof Suaidi Dalam Perkembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin

Tribun: Ketika anak-anak ini belajar tiap hari, perkembangan apa yang mereka dapatkan?

Yohana: Untuk lebih jauh, mereka bisa melek. Pada dasarnya untuk baca tulis hitung, agar mereka tidak diloloi atau ditipu oleh orang luar. Warsi juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, jadi beberapa anak itu sudah belajar di sekolah formal. Tahun lalu kita juga membuat yayasan pendidikan baru, PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat). Jadi, di sana menjadi wadah buat orang rimba, bukan sekadar baca tulis hitung, tapi juga bagaimana peningkatan kemampuan ekonominya. Di situ menjadi tempat menampung hasil dari orang rimba. Hasil hutan kita tampung dan kita bantu jual

Tribun: Berapa banyak mereka yang kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah formal?

Yohana: Di skeolah formal, mereka sudah lumayan banyak. Dari SD, SMP, SMK juga ada. jumlahnya sekitar ratusan.. Tapi tidak semua difasilitasi Warsi, ada juga beberapa lembaga yang mendampingi. Kalau yang kuliah, ada beberapa, tapi belum sampai 10 orang.

Tribun: Kesulitan apa yang selama ini dialami anak-anak rimba saat melanjutkan pendidikan ke sekolah formal?

Yohana: Penyesuaian. Kalau kita kan ada jenjang pendidikan, dari TK, SD. Mereka tidak. Usia 8 tahun biasanya baru belajar baca tulis hitung. Ada yang dipindahkan ke sekolah formal, tidak dari kelas 1. Jadi pengetahuan itu tidak sama dengan yang lainnya. Mereka tidak terbiasa belajar di ruang kelas tersekat-sekat. Tidak konsentrasi. Karena hidup mereka di alam. Tapi ketika di alam, walau pun berpindah-pindah tempat, mereka tetap mengerti apa yang kita ajarkan.

Tribun: Sebelum mengajar anak-anak rimba, mereka tentu belum mengenal kamu. Dengan orang baru, bagaimana interaksi mereka?

Yohana: Kalau misalnya mreka tahu untuk mengajar, mereka senang. Tapi pada umumnya orang rimba malu dan minder. Misalnya ketika makan, mereka biasanya nyuduk, atau bahasa kita mengumpet. Di balik kayu misalnya. Mungkin karena sebutan orang sekitar yang menjatuhkan mereka, mereka merasa segala yang mereka lakukan adalah kotor, tidak layak untuk dilihat sama orang baru. Bahkan untuk makan pun bersembunyi. Segala aktivitas mereka itu kalau bisa tidak kita lihat. Atau kadang mereka ngobrolnya berbisik, supaya orang tidak tahu. Tapi ketika duduk bersama mereka, makan sepiring berdua, akhirnya mareke wellcome. Kita dianggap orang mereka.

Tribun: KKI Warsi sudah memfasilitasi orang rimba selama belasan tahun, selama waktu tersebu, apa ada perubahan cara memfasilitasi pendidikan mereka?

Yohana: Kalau dulu kan, baca tulis hitung. Tapi sekarang sudah mengadvokasi mereka ke sekolah formal, juga ke PKBM, sehingga tidak hanya bacatlis hitung, tapi juga mengembangkan potensi mereka tanpa merusak hutannya.

Tribun: Dengan kondisi seperti itu, apa kamu tidak mengeluh?

Yohana: Karena ini permntaan saya sendiri, jadi saya menganggap itu tantangan. Setiap turun ke lapangan, selalu ada pelajaran baru. Paling sempat mengeluh karena kenakalan anak-anak. Tapi orang rimba ini, tidak seperti manusia modern yang mengenal dendam. Ketika kita marah ke seorang anak, dia tahu kita marah, dia akan pergi. Tapi lima menit kemudian dia akan datang lagi ke kita tanpa ada muka merasa kesal.. Marahnya cepat, baiknya juga cepat. Malah kadang justru lucu.

Baca juga: Atasi Bayi Rewel karena Tumbuh Gigi, Zayd Sempat Demam Hingga 40 derjat Celsius

Baca juga: Secuil Kisah Komunitas Guru Jambi Mengajar di Pedalaman ‘Semangat Mereka Luar Biasa’

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
181 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved