Kisah Sukses

Kisah Yohana, Jadi Fasilitator Pendidikan Anak Rimba, Ceritakan Keseharian Hidup di Rimba

Menjadi fasilitator pendidikan bagi anak-anak Suku Rimba memberikan Yohana Pamella Berliana Marpaung pengalaman yang tidak ternilai.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Yohana Pamella Berliana Marpaung saat diwawancarai reporter Tribun Jambi 

Kisah Yohana, Alumni Antropologi yang Jadi Fasilitator Pendidikan Anak Rimba, Ceritakan Keseharian Hidup di Rimba

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI - Menjadi fasilitator pendidikan bagi anak-anak Suku Rimba memberikan Yohana Pamella Berliana Marpaung pengalaman yang tidak ternilai.

Alumni Antropologi USU dan UGM yang akrab disapa Juana di kalangan anak-anak rimba ini menceritakan pengalamannya selama bergabung bersama KKI Warsi.

Bagaimana kisah Juana? Berikut petikan wawancara ekslusif Tribun Jambi bersama perempuan 28 tahun itu.

Tribun: Kenapa kamu memilih bergabung ke sana dan masuk ke dalam rimba?

Yohana: Awal kuliah S1 sudah pengin skripsinya tentang orang rimba, khususnya di bidang pendidikan. Cuma karena bujet ke sana minim, dari kampusnya juga sarankan ambil skripsi yang dekat-dekat saja, jadi belum kesampaian. Kemudian aku S2, awalnya pengin jadi dosen. Tapi pas sudah lulus, ada lowongan di KKI Warsi, langsung daftar. Motivasinya ya, pengin ketemu orang rimba dan mengajar.

Baca juga: Kisah Sultan Thaha, Pahlawan Nasional dari Jambi yang Dapat Julukan Pedang Agama

Baca juga: Masjid Raya Magat Sari, Punya Sejarah & Tradisi Yang Harus Diketahui, Dibangun Sejak Masa Perjuangan

Tribun: Tahu orang rimba dari mana?

Yohana: Dari buku, terus searching-searching di internet. Tapi pada umumnya dari buku. Waktu itu ada buku Sokola Rimba (Butet Manurung, 2007). Dulu sempat chating juga, waktu itu masih facebook, sempat kenalan sama orang rimba. Kemudian aku searching-searching, aku dari Medan, naik bus apa ke sana, tinggal di sana, bahasa rimbanya, sudah sampai ke sana. Cuma dari kampus, dari dosennya bilang, tidak usahlah ke sana. Jauh banget.

Tribun: Kamu gabung di KKI Warsi. Masuk ke rimba, sejak kapan?

Yohana: Akhir 2018. Bulan ini, bulan November. Ini genap dua tahun.

Tribun:  Ketika masuk ke sana, tentu ada perbedaan. Baik di Sumatera Utara atau di Yogyakarta, tidak lagi ditemukan suku seperti itu. Perbedaan  kehidupan yang drastis. Apa yang kamu rasakan?

Yohana: Kalau hutan dan orang di dalamnya, memang cuma ada di Jambi. Tapi sebelum ini kan, saya peneliti independen, beberapa kali juga masuk hutan. Cuma yang benar-benar hutan di taman nasional baru di sini. Tahun 2018, ketika kita sibuk dengan smartphone segala macam, mereka masih hidup dengan lampu damar. Masih sangat tradisional.. Itu kagetnya. Sampai sekarang pun, setiap masuk ke rombongan baru itu selalu ada kekagetan baru.

Yohana Pamella Berliana Marpaung saat diwawancarai reporter Tribun Jambi
Yohana Pamella Berliana Marpaung saat diwawancarai reporter Tribun Jambi (tribunjambi/mareza sutan)

Tribun: Awal masuk ke rimba, bahasa rimba tentu kamu tidak paham. Bagaimana kamu mengajar, tentu kamu harus memahami bahasa rimba dulu, kan? Bagaimana kamu memahami bahasa mereka?

Yohana: bahasa Rimba ini susah-susah gampang. Bahasa perempuan dan bahasa laki-laki itu berbeda. Bahasa yang belum menikah dan sudah menikah juga berbeda. Untungnya aku ditempatkan di fasilitator pendidikan dan mengajar anak-anak. Jadi kalau ngobrol terus ngomongnya salah, mereka tidak langsung kayak marah, atau segala macam. Mereka justru tertawa dan mengajari kita. “Bukan begitu. Itu bahasa betino, itu bahasa jenton, itu bahasa induk-induk, ini bahasa gadis nang lapai (perempuan belum menikah).” Jadi, mereka mengajari terus-menerus, sampai sekarang. Selalu ada bahasa baru, logat-logat baru yang ditemui di sana. Ketika saya fasih dan mereka nyambung dengan apa yang itu sekitar tiga bulan. KKI Warsi punya kantor lapangan di sana, yang juga dihuni oleh orang rimba. Jadi mau tidak mau, sehari-hari juga bahasa rimba.

Tribun: ketika mengajari mereka, apa keseruan dan kesulitan yang kamu dapatkan?

Yohana: Kalau keseruan yang didapatkan, semuanya seru. Karena setiap anak, setiap rombongan, itu selalu punya perbedan-perbedaan yang unik, sehingga kita bisa belajar banyak dari mereka. Kalau kesulitannya, biasannya lokasi mereka yang jauh. Untuk menemui rombongan A misalnya, kita harus jalan dua jam. Ketika di rimba, jalan dua jam itu berbeda, karena medannya tidak rata. Ditambah lagi kita harus bawa carier persediaan makanan, buku segala macam. Ada pun lokasi yang bisa dijangkau dengan sepeda motor, itu medannya juga sulit.

Apa lagi orang rimba hidupnya seminomaden. Mobilitasnya tinggi banget. Misalnya, bulan ini dia ada di lokasi A, bulan depan belum tentu. Mereka bisa saja pindah ke tempat lain.

Baca juga: Prof Suaidi Asyari, Rektor UIN STS Jambi, Putra Sungai Manau yang Menuntut Ilmu Hingga Kanada

Baca juga: Kisah Haru Ibu Asal Bungo, Mendaki Gunung Dempo, Kenang Kepergian Anak dan Menantunya

Tribun: Bagaimana keseharian anak-anak rimba?

Yohana:  Anak rimba itu wow banget. Semangat belajarnya tinggi banget. Rasa pengin tahunya tinggi banget.. Banyak kekonyolan-kekonyolan, yang baru kita pikirkan, oh iya, kenapa seperti itu. Contohnya, ketika saya bawa laptop depan mereka, mau mengetik, bantu buat akta lahir, terus mereka tanya, kenapa kamu tekan huruf-huruf di sini, kok bisa jadi banyak di layar ini? Kalau kita pikirkan ini teknologi, tapi mereka anggap itu seperti keajaiban. Sama kayak mesin printer, kita print di sini hasilnya keluar. Mereka tanya, ini siapo yang bewo huruf-huruf ko kemari? (siapa yang bawa huruf-huruf ini kemari?)

Tribun: Ada tidak, satu pengalaman unik saat mendampingi anak rimba?

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
181 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved