Kisah Pahlawan

Kisah Sultan Thaha, Pahlawan Nasional dari Jambi yang Dapat Julukan Pedang Agama

Sultan Thaha Syaifuddin merupakan pahlawan nasional asal Jambi. Namanya sudah tidak asing lagi, terutama bagi masyarakat Provinsi Jambi.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Patung Sultan Thaha Syaifuddin 

Bahkan, dia menyatakan kerajaan Jambi adalah hak rakyat Jambi dan akan dipertahankan hingga tetes darah penghabisan.

Mendengar pernyataan tegasnya, pemerintahan Belanda naik pitam. Bendera perang berkibar. Pertempuran tak dapat dielakkan, dan pecah sejak 1858.

Pertempuran terus meluas hingga ke daerah-daerah di wilayah Jambi. Dalam peperangan panjang itu, Sultan Thaha Saifuddin beserta pasukannya melakukan gerilya ke daerah Uluan, guna menghindari kepungan musuh.
Berbagai taktik dilakukan dalam pertempuran itu.

Dalam pertempuran sengit itu, Sultan Thaha dan pasukannya sempat melumpuhkan pertahanan Belanda di Batang Asai (sekarang masuk wilayah Kabupaten Sarolangun).

Baca juga: Secuil Kisah Komunitas Guru Jambi Mengajar di Pedalaman ‘Semangat Mereka Luar Biasa’

Selain itu, bersama pasukannya, dia juga berhasil menenggelamkan kapal perang Hotman milik Belanda.

Selama menjabat, Sultan Thaha Syaifuddin melakukan banyak hubungan diplomasi dengan beberapa negara, seperti Turki, Inggris, dan Amerika.

Tujuannya, untuk memperoleh bantuan persenjataan dan amunisi, guna menghadapi pertempuran dengan Belanda.

Masa perlawanan terhadap Belanda di bawah kepemimpinan Sultan Thaha berlangsung sekitar 46 tahun.

Gugur di Medan Perang

Sultan Thaha Syaifuddin gugur dalam sebuah pertempuran sengit, pada April 1904.

Sekali waktu dalam pertempuran yang sengit di Betung Bedarah, Sultan Thaha Saifuddin tak henti-hentinya mengumandangkan takbir.

Waktu itu 27 April 1904, dini hari. Di tengah dinginnya udara, pertempuran terus terjadi.

Baca juga: Komunitas 1000 Guru, Komunitas Sosial Didik Anak-anak Pedalaman, Anggotanya dari Dokter hingga Artis

Sultan Thaha terus-menerus mengumandangkan takbir. Dalam pekikan takbir itu pula, akhirnya ajal menjemputnya. Dia mengembuskan napas terakhir setelah Belanda mengepungnya di Betung Bedarah (sekarang masuk wilayah Kabupaten Tebo).

Dia gugur dalam peperangan itu, pada usia 88 tahun sebagai Kesuma Bangsa.

Sepeninggal Sultan Thaha Saifuddin, perjuangan melawan Belanda tidak sampai di situ.

Satu di antara pengikut setianya, Muhammad Thahir, yang lebih dikenal dengan Raden Mattaher melanjutkan perjuangannya, memegang panji Kerajaan Melayu dan rakyat Jambi.

Raden Mattaher adalah seorang panglima perang gerilya yang dikenal dengan sebutan 'Singo Kumpeh' ini tidak membiarkan seorang pun Belanda bercokol di negeri Jambi.

Namun, setelah beberapa tahun bergerilya, dia pun gugur pada 1907. ( Tribunjambi.com/ Mareza Sutan A J)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
180 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved