Kisah Pahlawan

Kisah Sultan Thaha, Pahlawan Nasional dari Jambi yang Dapat Julukan Pedang Agama

Sultan Thaha Syaifuddin merupakan pahlawan nasional asal Jambi. Namanya sudah tidak asing lagi, terutama bagi masyarakat Provinsi Jambi.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Patung Sultan Thaha Syaifuddin 

Dengan semangat dan tekad itu, Sultan Aceh kemudian menyematkan nama imbuhan padanya, yakni Syaifuddin.

Kata itu diambil dari bahasa Arab yang berarti 'pedang agama'. Sejak saat itulah, Raden Thaha mulai dikenal dengan nama Raden Thaha Syaifuddin.

Replika Sultan Thaha Syaifuddin, pahlawan nasional asal Jambi.
Replika Sultan Thaha Syaifuddin, pahlawan nasional asal Jambi. (istimewa)

Mengabdi di Kesultanan Jambi

Kembali dari perantauannya, Raden Thaha yang pulang dari Aceh disambut tulus oleh ayahnya, Sultan Muhammad Fachruddin.

Dia diberi kepercayaan sebagai duta keliling. Tugasnya mempererat hubungan persahabatan dan ukhuwah Islamiyah dengan kerajaan-kerajaan sahabat di Malaya, Tumasik (Singapura), juga di Patani (Siam, Thailand).

Dia dikenal punya kemampuan diplomatik yang sangat bagus. Kunjungannya ke kerajaan-kerajaan sahabat selalu disambut baik.

Dalam lawatan itu jualah, Raden Thaha Syaifuddin sekaligus menimba pengalaman dari tempat yang dia kunjungi.

Pada tahun 1841, ayahnya wafat. Tahtanya diserahkan kepada pamannya, Abdurrahman Zainuddin.

Baca juga: Peran Prof Suaidi Dalam Perkembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin

Baca juga: Atasi Bayi Rewel karena Tumbuh Gigi, Zayd Sempat Demam Hingga 40 derjat Celsius

Raden Thaha Saifuddin diangkat sebagai Pangeran Ratu (putra mahkota) dengan gelar Pangeran Ratu Jayadiningrat sekaligus Perdana Menteri.

Dalam megnemban tugasnya itulah, dia mencanangkan agar seluruh rakyat pandai membaca Alquran dan menulis aksara Arab.

Tidak hanya itu, dia juga turut memajukan pertanian, perkebunan, peternakan, dan pengelolaan hasil hutan serta mengintensifkan penambangan emas.

Semua kegiatan itu dipertanggungjawabkan kepada pepatih dalam, pepatih luar, dan jenang.

Sultan Thaha Memimpin Jambi

Raden Thaha naik tahta ketika Sultan Abdurrahman Zainuddin wafat, sekitar 1850-an. Dia dinobatkan sebagai raja Kerajaan Melayu Jambi.

Dalam pidato pengukuhannya, dia menyatakan rasa tidak senang terhadap Belanda. Itu pula yang menjadi alasan Sultan Thaha Saifuddin membatalkan semua perjanjian yang telah dibuat sultan-sultan terdahulu, termasuk ayahnya.

Dia menganggap perjanjian itu tidak adil, juga sangat merugikan rakyat dan Kesultanan Jambi.

Mendengar pernyataan itu, pemerintah Belanda memberi wewenang kepada residen yang berkedudukan di Palembang untuk berunding, agar Kesultanan Jambi mau mengakui pemerintahan Belanda.

Dalam rundingan itu disebutkan, Sultan Thaha Syaifuddin tetap berkuasa, namun wilayah kekuasaannya diakui sebagai pinjaman dari pemerintahan Belanda.

Dengan tegas, Sultan Thaha Saifuddin tetap bersikukuh menentangnya. Sebagai pemimpin yang tegas dan berpihak pada rakyat, dia menolak negosiasi dari Belanda.

Mendapat tanggapan itu, Belanda mengancam akan menurunkan Sultan Thaha Saifudin dari tahtanya. Meski begitu, dia tetap tidak berkenan untuk berunding.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
180 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved