Sejarah Masjid

Masjid Raya Magat Sari, Punya Sejarah & Tradisi Yang Harus Diketahui, Dibangun Sejak Masa Perjuangan

Masjid Magat Sari adalah satu di antara masjid bersejarah di Provinsi Jambi.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Masjid Magat Sari merupakan  satu masjid tua yang terletak di Kota Jambi. 

Masjid Raya Magat Sari, Punya Sejarah & Tradisi Yang Harus Diketahui, Dibangun Sejak Masa Perjuangan

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI - Masjid Raya Magat Sari adalah satu di antara masjid bersejarah di Provinsi Jambi.

Masjid ini terletak di Jl Orang Kayo Hitam, Arab Melayu, Kecamatan Pasar Jambi, Kota Jambi, Jambi (36123).

Masjid Magat Sari merupakan  satu masjid tua yang terletak di Kota Jambi. Pembangunan masjid itu sebagai bukti perkembangan Islam di Jambi pada masa lalu.

Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah. Itu adalah ungkapan yang memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan masyarakat di kota Jambi.

Antara norma agama dan norma adat saling mengisi, baik dalam tata cara berpikir kata, perbuatan, maupun dalam tata hubungan sesamanya.

Baca juga: Prof Suaidi Asyari, Rektor UIN STS Jambi, Putra Sungai Manau yang Menuntut Ilmu Hingga Kanada

Baca juga: Kisah Haru Ibu Asal Bungo, Mendaki Gunung Dempo, Kenang Kepergian Anak dan Menantunya

Satu di antara bukti kuatnya pengaruh Islam di Jambi adalah Masjid Raya Magat Sari.

Masjid itu terletak tak jauh dari keramaian pasar. Orang-orang dari berbagai penjuru singgah di sana untuk salat atau hanya beristirahat.

Masjid yang telah dibangun lebih dari satu setengah abad ini ternyata menjadi satu di antara masjid tertua di Kota Jambi.

Menurut informasi yang diperoleh dari pengurus Masjid Magat Sari, lokasi masjid ini merupakan tanah wakaf Syekh Hasan bin Ahmad Bafadhal.

Itu diperoleh secara turun-temurun sejak 1276 Hijriah atau sekitar tahun 1850-an Masehi, dari masa pemerintahan Kesultanan Jambi, Pangeran Mangkunegara.

Adapun pembangunan masjid ini dimulai sejak penghujung masa perjuangan Sultan Thaha melawan Belanda, yaitu sekitar 1906 Masehi.

Pembangunan masjid ini terus dilakukan. Dulu ukuran asalnya sekitar 30 x 30 meter.

Masyarakat dulu gotong royong membangun ini. Banyak yang mereka kasih, mulai dari tanah, harta benda, dan lain-lain.

Tokoh-tokoh masyarakat yang memprakarsai pembangunan masjid ini, antara lain, Syaid Abdurrahman bin Ahmad Bafadhal, H Ibrahim bin Hasan, dan H Bas Saleh.

Selain itu, ada pula nama-nama tokoh lainnya, seperti H Hasan bin Ahmad Bafadhal, H Abdul Rahman Sutro, Syaid Salim Alkaf, H Muhammad bin H Husin Bafadhal, dan H Ibrahim Qurun.

Pembangunan Masjid Magat Sari ini dipimpin oleh H Agus Nasir. Bangunan masjid ini dulu menggunakan bahan dari kayu.

Ada empat tiang soko guru dari kayu bulian.  Selain itu, dulu ada menara azan yang terbuat dari bambu yang disusun dan dirangkai sedemikian rupa dan diberi atap.

Baca juga: Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional, Siapa Sebenarnya Raden Mattaher? Singo Kumpeh Penentang Penjajah

Baca juga: Peran Prof Suaidi Dalam Perkembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin

Sedangkan atap masjidnya dulu berupa atap sirap, bentuknya joglo atau menyerupai tumpeng.

Untuk menunjang kegiatan syiar agama, di masjid ini masyarakat sekitar saling gotong royong untuk mengumpulkan wakaf.

Selain itu, para pemilik toko di sana pun tidak mau kalah saling memberikan yang terbaik untuk kemakmuran masjid ini.

Asal Nama Magat Sari

Adapun namanya, ada beragam versi. Berbagai sumber memberi informasi mengenai asal-usul nama Magat Sari.

Ada yang menyebutkan berasal dari nama seseorang yaitu dan Nan Magat atau Nagat Sari.

Ada pula yang menyebut berasal dari nama kampung, yaitu Magatsari.

Ada juga sumber yang mengatakan, Magat Sari berasal dari penggabungan dua nama itu. Nama orang dan nama tempat.

Menurut keterangan pengurus masjid, nama Magat Sari memang sudah menjadi nama awal sejak masjid ini dibangun.

Namun yang jelas, nama Magat Sari telah lama melekat pada masjid ini, hingga kini.

Perkembangan Pembangunan Masjid

Dalam perkembangannya, masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Masjid Magat Sari direnovasi pada 1923, 1937, 1950 dan 1970, yang mana saat itu masjid ini terbakar.

Waktu itu, Kota Jambi mendapat serangan Belanda. Masyarakat melakukan perlawanan dengan gigih bersama pejuang-pejuang yang berani.

Pada 1992, masjid ini diperlebar dari ukuran 30 x 30 meter menjadi 1.287 meter persegi luasnya.

Selain itu, masjid ini mulai dibangun secara permanen yang terdiri dari dua lantai.

Hingga kini, masjid Magat Sari masih berdiri kukuh tegak di tengah keramaian pasar.

Bukan hanya itu, masjid ini selalu ramai, menjadi tempat bersujud dan tempat beristirahat bagi orang yang lelah dengan hiruk-pikuk di luar sana.

Ketika bulan suci Ramadan dan Idul Fitri masjid biasanya semakin ramai dihadiri umat Islam dari berbagai kalangan. Masjid ini juga ramai dikunjungi pada perayaan Idul Adha atau hari besar Islam lainnya.

Tradisi Nasi Minyak

Di Masjid Magat Sari, ada tradisi menarik yang berlangsung selama Ramadan.

Ketika Ramadan, masjid ini punya tradisi Timur Tengah yang terus dilestarikan hingga kini.

Baca juga: Atasi Bayi Rewel karena Tumbuh Gigi, Zayd Sempat Demam Hingga 40 derjat Celsius

Baca juga: Secuil Kisah Komunitas Guru Jambi Mengajar di Pedalaman ‘Semangat Mereka Luar Biasa’

Selama sebulan penuh, pengurus masjid menggelar acara buka puasa bersama jemaah masjid.

Yang menjadi ciri Timur Tengah dalam buka puasa tersebut adalah nasi minyak. Hidangan itu disajikan dengan kuah kari daging kambing. 

Nasi-nasi minyak itu disajikan di atas nampan, jumlahnya bisa sampai 200 nampan.

Satu nampan bisanya untuk berdua. Biasanya, nasi minyak ini akan dihidangkan saat malam Jumat.

Sebelum berbuka, pengurus masjid juga telah menyiapkan kurma dan air manis sebagai menu pembuka.( Tribunjambi.com/ Mareza Sutan A J)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
179 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved