Pahlawan Nasional

Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional, Siapa Sebenarnya Raden Mattaher? Singo Kumpeh Penentang Penjajah

Raden Mattaher merupakan satu di antara pejuang asal Jambi. Dia dikenal dengan julukan Singo Kumpeh.

Penulis: Mareza Sutan AJ
Editor: Rahimin
zoom-inlihat foto Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional, Siapa Sebenarnya Raden Mattaher? Singo Kumpeh Penentang Penjajah
istimewa
Raden Mattaher

Dari keberanian dan perjuangan itulah Raden Mattaher mendapat julukan Singo Kumpeh.

Gugur pada Dini Hari
Raden Mattaher wafat pada 10 September 1907. Usai perlawanan panjang yang dikenal dengan Perang Kumpeh, 1890-1906, pasukan Belanda semakin keteteran.

Raden Mattaher menguasi pola perang gerilya dan maritim, yang membuat serangan Belanda kandas di sepanjang Sungai Batanghari. Keberadaan Raden Mattaher dan pasukannya sulit ditebak.

Sebagai panglima perang, dia tahu kapan harus berperang di hulu dan di hilir, di darat dan di sungai.

Kabar ini sampai pada petinggi Belanda. Mereka murka dan menggempur Jambi habis-habisan. Pada 23 April 1904, Sultan Thaha Syaifuddin gugur.

Raden Mattaher termasuk satu di antara yang memegang tampuk perjuangan pascagugurnya Sultan Thaha Syaifuddin.

Wafatnya Sultan Thaha tidak membuat Raden Mattaher gentar terhadap Belanda. Dia terus mengobarkan semangat perlawanan. Namun kekuatan Belanda terus bertambah.

Kamis, 10 September 1907, dini hari begitu dingin. Sebagian keluarga keturunan Sultan Thaha dan Raden Mattaher telah diungsikan lebih dulu. 

Namun Mat Tahir masih berada di rumahnya, bersama adiknya, Raden Achmad dan beberapa pejuang. Dia tidak sampai hati meninggalkan rakyat yang berjuang membela tanah Jambi.

Pada suasana hening itu, dia salat malam. Namun, dini hari itu, pasukan Belanda telah mengepung rumahnya.

Baca juga: Janganlah Ragu Memulai Saat Ada Kesempatan, Pengalaman Fanny Saat Usia Muda Ngajar di Banyak Lembaga

Baca juga: Hasbi Anshory Mengajarkan Demokrasi Sejak Dini, Terbuka Menerima Kritik dan Saran Anak

Raden Mattaher diminta menyerah kepada Belanda. Namun, dia menolak. Kematian syahid menjemputnya.

Peluru Belanda menembus kulitnya. Dia gugur pada dini hari itu.

Setelah gugur, Raden Mattaher dimakamkan secara syariat Islam. Pusaranya terletak di pemakaman raja-raja, di tepi Danau Sipin.

Sementara itu, kelingkingnya ditanam di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi.

Makam jari kelingking itu letaknya tidak jauh dari rumah panggung yang menjadi tempat gugurnya sang pahlawan.

Konon, saat pertempuran hebat melawan Belanda, jari kelingking Raden Mohammad Tahir putus. Orang-orang meyakini jari itu milik sang pahlawan karena melihat tanda inai atau pewarna di kukunya.

Dianugerahi Gelar Pahlawan

Raden Mattaher dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 10 November 2020. Anugerah gelar pahlawan ini telah melalui proses yang panjang.

Singo Kumpeh menjadi orang kedua yang mendapat gelar pahlawan nasional asal Jambi, setelah Sultan Thaha Syaifuddin.

Penanugerahan ini akan diterima oleh pihak ahli waris sang pahlawan.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
176 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved