Ogah Jual ke Tengkulak, Petani Cabai di Kota Jambi Ini Memilih Berjualan Secara Online

Edi Junaedi sedang asik dengan aktifitasnya mengolah kebun ketika Tribunjambi.com menghampirinya.

Editor: Rahimin
tribunjambi/yon rinaldi
Edi Junaedi sedang asik dengan aktifitasnya mengolah kebun 

TRIBUNJAMBIWIKI.COM, JAMBI - Edi Junaedi sedang asik dengan aktifitasnya mengolah kebun ketika Tribunjambi.com menghampirinya.

Tanah seluas 30 tumbuk di Kenali Asam Atas, Kota Jambi ini ditanami berbagai macam tanaman endemik Indonesia.

Di bagian depan kebunnya tampak jejeran tanaman cabai merah terhampar. Mulai kebelakang terlihat tanaman cabai setan dan daun bawang.  

Di hamparan paling belakang terlihat tanaman bawang merah berjejer rapi di sudut kiri kebun tersebut, sedangkan di sebelah kanannya banyak terdapat berbagai macam jenis pohon jeruk. Mulai dari jeruk nipis sampai jeruk lemon.

Baca juga: Buka Usaha Disaat Pandemi Covid-19, Toko Bahan Kue Ini Punya Strategi Marketing yang Keren

Pagi menjelang siang itu, selain edi dan temannya ada juga konsumen setia dia Johari sedang memetik cabai.

Edi mengatakan untuk beberapa konsumen spesialnya diperbolehkan untuk memetik langsung cabai di kebunnya.

“Buat yang mau metik langsung silahkan, asal tau cara memetiknya saja,” ujarnya kepada Tribunjambi.com, Sabtu ( 31/10/2020).

Edi memang tidak berkeberatan jika ada konsumennya mau memetik langsung cabainya, asalkan konsumennya itu tau cara memanen cabai yang benar.

Hasil di kebun Edi Junaedi
Hasil di kebun Edi Junaedi (tribunjambi/yon rinaldi)

Johari pelanggan setia hasil pertanian Edi menuturkan dia senang membeli cabai langsung ke sini karena cabainya dijamin masih segar. Apalagi dia diperbolehkan memetik langsung. “Serasa punya sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut Johari mengatakan istrinya selalu menyuruh dia membeli hasil pertanian di sini, “selain masih segar harganya juga di bawah harga pasar,” Tambahnya.

Lokasinya yang masih di tengah kota memudahkan konsumen untuk datang langsung ke perkebunannya.

Lokasinya bila dari Simpang Asrama Haji atau Simpang Toko Kebun Handil, tinggal menuju ke arah Kenali Asam Atas atau menuju ke Jalan HA Roni Sani setelah itu akan menemukan hamparan tanah yang ditanami pohon kelapa dan ubi.

Baca juga: Cerita Ketua IDI Jambi, dari Kuliah di Berbagai Jurusan Hingga Kiat Atur Waktu Bersama Keluarga

Baca juga: Dosen di Jayapura Ini Sukses Dengan Salad Buahnya, Sekarang Produknya Ada di Jambi

Hamparan perkebunan tadi dibelah oleh jalan cor. Kebun milik Edi berada tengah-tengan perkebunan, pas di pinggir jalan cor tadi. hanya dia yang menanam cabai di sana.

Menolak Tengkulak

Harga yang begitu rendah di tengkulak memaksa Edi berfikir kreatif untuk mendapatkan harga yang pantas dari hasil keringatnya.

Untuk itu, dalam memasarkan hasil pertaniannya Edi memilih cara anti mainstream. Alih-alih menjual ke Tengkulak, dia malah memanfaatkan sosial media untuk memasarkan hasil pertaniannya.

Setiap musim panen tiba, dia rajin memposting hasil pertaniannya ke sosial media Facebook dan instagram.

Dari sosial media ini lah, saat ini dia mendapatkan pelanggan setianya yang tak segan datang langsung ke kebun miliknya.

Edi menceritakan dulu dia sempat mengantarkan hasil pertaniannya ke rumah pelangganya. Tapi sekarang pelangganya sudah datang langsung ke kebunnya.

Sehingga dia tidak ada stok lagi untuk melakukan delivery, bahkan untuk konsumsi pribadi saja dia kadang kehabisan.

“Kalau dulu saya panen baru posting di sosmed, sekarang saya posting dulu baru panen,” katanya.

Inovasi Bisnis

Selain cabai dan hasil pertanian palawija lainya saat ini Edi juga mengembangkan berbagai macam jenis bibit buah-buahan untuk dia jual.

Baca juga: Cerita di Balik Berdirinya Tugu Juang, dari Sejarah Hingga Simbol Perjuangan Rakyat Jambi

Baca juga: Aglaonema dan Keladi Buat Jimi Putra Bisa Raup Keuntungan Belasan Juta Saat Pandemi Covid-19 Ini

Berdasarkan pengamatan Tribunjambi.com sendiri, tampak berbagai macam bibit jenis jeruk berjejer rapi dalam polybek hitam.

Selain itu ada juga bibit daun mint dan buah tin yang sedang dia kembangkan.

Tidak hanya itu Edi juga menyediakan bibit anggur, Cuma yang satu ini belum diperjual belikannya, karena dia belum bisa menjamin bibit anggurnya menghasilkan buah dengan kualitas terbaik.

Lagi Masa Paceklik

Edi mengatakan saat ini, tanaman cabainya bisa dikatakan gagal panen, banyak dari cabainya yang terserang penyakit sehingga hanya 20 persen yang bisa dipanen.

Baca juga: Tribunners Mau Tahu Cara Merawat Aglaonema Agar Tumbuh Subur, Ini 4 Tips Dari Jimi Putra

Itulah kenapa dia tidak memposting hasil panennya di periode ini, hanya beberapa pelanggan setianya yang dia infokan Via aplikasi whatsapp. Adapun nomor whatsapp yang biasa digunakan Edi untuk berkomunikasi dengan konsumennya adalah 0822 5200 5561.

Lebih lanjut Edi menceritakan bukan cuma dia saja yang mengalami masa paceklik, beberapa petani cabai di Provinsi Jambi juga mengalami hal serupa. (Tribunjambi.com/Rinaldi).

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
166 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved