Bonsai Kelapa

Rafik Sulap Halaman Rumahnya di Nibung Putih Untuk Tempat Koleksi Bonsai Kelapa

Demam bonsai (kelapa hias) yang saat ini tengah digandrungi, menjadi berkah sendiri bagi seorang warga di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Editor: Rahimin
tribunjambi/abdullah usman
Rafik menyulap halaman rumahnya di Nibung Putih untuk tempat koleksi bonsai kelapa 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Abdullah Usman 

 TRIBUNJAMBIWIKI.COM, MUARA SABAK - Di saat pandemi Covid-19 ini, demam bonsai (kelapa hias) tengah digandrungi, menjadi berkah sendiri bagi seorang warga di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Berbekal pasokan bahan baku kelapa yang melimpah di Kabupaten Tanjabtim, ditambah demam bonsai kelapa kerdil yang naik pamor saat ini seakan menjadi peluang usaha tersendiri yang cukup bernilai ekonomis.

Seperti usaha rumahan yang digeluti oleh Rafik (40) warga Kelurahan Nibung Putih Kecamatan Muara Sabak Barat.

Ia sukses menyulap halaman rumahnya menjadi koleksi bonsai kelapa yang berpvarian dengan nilai jual yang beragam.

Baca juga: Evelyn Ervandy, Siswa Berprestasi Asal Jambi, Kalahkan 64.555 Pelajar Pada Kihajar STEM 2020

Baca juga: Berawal Dari Hobi, Kini Feni Titania Sukses Berjualan Donat

Dikatakannya, awal mula menekuni dunia bonsai kelapa ini sendiri sejak satu tahun lalu, terinspirasi usai dirinya pulang dari luar daerah dan tanpa sengaja melihat banyak olahan bonsai kelapa.

Saat ini sudah terdapat beberapa jenis dan varian kelapa bonsai yang berhasil dibuatnya. Dengan memanfaatkan bahan baku yang cukup melimpah di Tanjabtim.

" Ada beberapa jenis kelapa yang kita gunakan untuk bonsai, mulai dari kelapa sayur (lokal),

Kelapa gading kuning, gading ijo, dan ada juga kelapa manis (kelapa pink obat)," sambungnya.

Bonsai kelapa koleksi Rafik
Bonsai kelapa koleksi Rafik (tribunjambi/abdullah usman)

Menurutnya,  dari sekian banyak jenis kelapa tersebut paling banyak itu jeni kelapa gading ijo, karena dari segi daun dan batok lebih bagus dan terlihat comel. Sehingga kelapa bonsai yang dihasilkan terlihat lebih unik dan artistik. 

"Saat ini ada sudah jadi sekitar 20an bonsai lebih yang siap jadi dan banyak lagi yang masih dalam tahap proses," ujarnya.

Selain menjadi hobi saat di masa pandemi Covid-19 saat ini, ngebonsai juga terbilang tidak terlalu susah hanya membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Tanpa disadari semenjak harus berdiam diri dirumah banyak bonsai yang telah dihasilkan.

"Banyak juga yang sudah terjual baik yang sudah full jadi atau yang baru mulai jadi dari harga Rp 150 ribu Rp 1,5 juta.  yang buat mahal selain udah jadi juga adanya ukiran pada sabut bongkol kelapa yang menjadi nilai tersendiri," ia menjelaskan.

Baca juga: Catatan Sejarah Bandara Sultan Thaha Jambi, Dari Lapangan Terbang Paalmerah, Sekarang Berdiri Megah

Baca juga: Berawal Dari Grasi Sampai Punya Cabang, Mantan Honorer ini Sukses Berbisnis Barbershop

Pada bongkol atau sabutnya sendiri sifatnya sebagai pemanis dan variasi saja, namun bentuknya beragam ada kura-kura, ayam, burung dan bisa juga menerima pesanan pemanis dengan catatan bisa.

"Kalau untuk saat ini onsai yang siap jual dengan pemanis ayam jago, menjadi bonsai harga tertinggi yang siap angkut dibandrol Rp. 1,5 juta," katanya.

Selain itu, usaha bonsai yang berada di Sabak Barat ini juga dapat melayani pesanan pembuatan POT bunga, ataupun pot bonsai dengan beraneka bentuk dan rupa. Hanya saja usaha ini tidak menyediakan bibit untuk di jual. 

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
156 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved