Berperan Membangun Desa, Kelompok Perempuan Desa Pulau Raman Kembangkan Demplot

Di seberang Sungai Batanghari, sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok menanam sayuran tanpa pestisida

Editor: Rahimin
tribunjambi/mareza sutan
Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman usai memanen kangkung 

Laporan wartawan Tribun Jambi, Mareza Sutan AJ

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Peran perempuan untuk membangun desa kini mulai terlihat. Di seberang Sungai Batanghari, sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok menanam sayuran tanpa pestisida dan membuat pupuk alami.

Suara ketek terdengar samar dari daratan yang terletak di bibir Sungai Batanghari itu.

Belasan perempuan berkumpul di petak kebun di Desa Pulau Raman, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari. Mereka memanen kangkung, yang ditanam sejak sebulan lalu.

Itu adalah demonstrasi plot (demplot) yang difasilitasi oleh Beranda Perempuan.

Mengenal Anisa, Ketua BPD Pulau Raman yang Hobi Nyanyi dan Punya Ternak Kerbau

Juara 1 Pemenang Pemilihan Pelopor Anti Narkoba dari SMA Xaverius 1 Jambi

Metode penyuluhan langsung ini dilakukan untuk mendorong produktivitas dan hasil pertanian.

Ibu-ibu di Desa Pulau Raman menjadi motor penggerak untuk mengembangkan pertanian di daerahnya.

Kata Direktur Beranda Perempuan, Zubaidah, kegiatan yang berlangsung selama empat bulan itu dimulai dari diskusi kampung. Mereka membahas 'Peran Perempuan dalam Pengelolaan Sayur Tanpa Pestisida'

"Di sini, kami melakukan pelatihan pembuatan pupuk alami, dan pengembangan pertanian di desa," terangnya.

Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman saat panen kangkung
Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman saat panen kangkung (tribunjambi/mareza sutan)

Para perempuan di desa dibentuk dalam dua kelompok. Hulu dan hilir. Masing-masing kelompok dibina untuk mengembangkan pupuk alami yang hasilnya mereka uji pada tanaman yang menjadi demplot.

Selain kangkung, mereka juga mengembangkan pertanian pada bayam dan cabai.

Ada sekitar 30 orang yang mengikuti kegiatan itu, dibatasi karena adanya pandemi Covid-19. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, 15 orang per kelompok.

Pembuat Perahu di Seberang Kota Jambi Masih Bertahan di Tengah Pandemi

Pendampingan Beranda Perempuan terhadap kaum hawa di Desa Pulau Raman bukan tanpa alasan. Minimnya sarana pendidikan menjadi satu di antara yang menggerakkan mereka untuk mendampingi.

Dari informasi yang diperoleh, hanya ada SD di sana. Mereka yang hendak sekolah lebih tinggi harus menyeberang ke desa tetangga untuk mengeyam pendidikan di MTs atau SMP.

Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman saat panen kangkung
Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman saat panen kangkung (tribunjambi/mareza sutan)

Untuk sekolah di tingkat SLTA, lebih sulit lagi. Mereka harus menyeberang Sungai Batanghari dan bersekolah di Pijoan, Muarojambi.

Atau, jika tidak ingin menyeberang, pilihan sekolah lain juga ada di Sengeti, Muarojambi. Alasannya, karena dua tempat itu yang paling dekat, jika tidak merantau untuk mencari pendidikan di tempat lain.

Akses jalan yang sulit juga menjadi tantangan bagi mereka untuk mendapat pendidikan tinggi.

Meski sudah ada di antara mereka yang bergelar sarjana, tapi itu hanya sebagian kecil. Mereka rata-rata mengenyam pendidikan hanya sampai SD atau SLTP.

Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman saat panen kangkung
Sejumlah perempuan tergabung dalam dua kelompok di Desa Pulau Raman saat panen kangkung (tribunjambi/mareza sutan)

Kondisi ekonomi juga menjadi penyebab sulitnya mereka mendapat pendidikan, selain fasilitas yang juga tidak memadai. Imbasnya, mereka yang putus sekolah, sebagian besar memilih menikah pada usia di bawah 19 tahun.

"Pendampingan pada perempuan petani selama ini, kami selalu beririsan dengan persoalan perkawinan usia anak dibawah 19 tahun. Situasi kemiskinan pada keluarga di desa berdampak multidimensi terhadap anak perempun. Baik putus sekolah, hingga hilangnya akses informasi terkait kesehatan reproduksi," jelas Zubaidah.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
100 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved