Tahu dari Batanghari

Tahu Batanghari, Usaha Turun Temurun Milik Suaheti Kini Beromzet Belasan Juta per Bulan

Salah satunya di Batanghari, peminatnya masih sangat ramai. Ada beberapa pengusaha di kabupaten ini yang membuat tahu.

Tribun Jambi/Rian Aidilfi Afriandi
Suaheti saat tengah menyusun tahu yang baru selesai diproduksi. Suhaeti (50) warga Jalan MTQ, RT 35, RW 07, Kelurahan Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Tahu makanan yang terbuat dari kacang kedelai, sampai saat ini masih sangat dicari oleh masyarakat sebagai bahan makanan.

Salah satunya di Batanghari, peminatnya masih sangat ramai. Ada beberapa pengusaha di kabupaten ini yang membuat tahu.

Satu di antaranya Suhaeti (50) warga Jalan MTQ, RT 35, RW 07, Kelurahan Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari.

Suaheti saat tengah menyusun tahu yang baru selesai diproduksi. Suhaeti (50) warga Jalan MTQ, RT 35, RW 07, Kelurahan Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari.
Suaheti saat tengah menyusun tahu yang baru selesai diproduksi. Suhaeti (50) warga Jalan MTQ, RT 35, RW 07, Kelurahan Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. (tribunjambi/rian aidilfi afriandi)

Suaheti menyebut bahwa usaha rumahannya ini merupakan usaha turun temurun yang dirintis keluarganya di Kuningan Jawa Barat sejak puluhan tahun silam.

Dari Lapangan Terbang Paal Merah Jadi Bandara Sultan Thaha Jambi, sejak Zaman Belanda

Tumbuh di Atas Tanah Gambut, Suka Duka Petani Nanas Tanjabtim

Perharinya ia mampu menjual 100 kg tahu dan meraup omzet belasan juta perbulannya.

Usaha ini ia bawa ke Muara Bulian sejak 2010 lalu. Ia memulainya bersama suaminya Agus (56) dengan 5 orang karyawan.

Sebelumnya, wanita yang akrab disapa Teteh ini hanya penjual jajanan seperti gorengan, kopi dan nasi di depan Gedung Pemuda.

Hanya saja, omset perhari yang didapatnya saat itu tak mampu menutupi kebutuhan keluarganya.

"Dulu inginnya punya usaha lain selain yang sudah dilakukan oleh orang tua. Makanya sempat buka warung kopi waktu itu," ujarnya kepada Tribun, Kamis (27/2).

Ia dan suaminya berpikir bahwa ingin beralih ke usaha yang dijakankan orang tuanya di Jawa sana. Pikirnya untuk coba-coba saja dengan modal seadanya waktu itu.

"Kami juga ingin perubahan waktu itu. Ternyata, rejekinya di sini. Dan peminatnya cukup banyak," ujarnya lagi.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Aline
Editor: Aline
Sumber: Tribun Jambi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved