Warga Desa Pulau Betung Produksi Tongkat Persneling dari Kayu dengan Beragam Ukiran

Awalnya, warga di Desa Pulau Betung membuat ukiran-ukiran hiasan berupa ikan arwana, burung cendrawasih, mebel ukiran dan lainnya.

Penulis: suci08
Editor: Ami Heppy
Tribun Jambi/Rian Aidilfi
Perajin di kampung ukiran kayu di Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. 
Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari Jambi Produksi Handling Perseneling Ukiran Kayu Kepala Kobra
TRIBUNWIKIJAMBI.COM - Bagi yang belum tahu, ada keistimewaan ukiran kayu para perajin di Desa Betung, Kabupaten Batanghari.

Awalnya, warga di Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi membuat ukiran-ukiran hiasan berupa ikan arwana, burung cendrawasih, mebel ukiran dan lainnya.

Namun, kini perajin semakin berkembang.

Warga Desa Pulau Betung lebih banyak membuat ukiran persneling atau handle gigi mobil bermotif kepala hewan, seperti kepala ular kobra, burung, tengkorak dan lainnya.

Perajin di kampung ukiran kayu di Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Perajin di kampung ukiran kayu di Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. (Tribun Jambi/Rian Aidilfi)

Janik (47) merupakan satu diantara pengrajin ukiran di desa tersebut menyebut bahwa ide dan motif untuk membuat ukiran persneling mobil ini dimulai pada awal 2010.

Saat itu, katanya, ada warga Padang yang datang mengajari warga desanya membuat asbak bermotif ular kobra.

Mengenal Pohon Kepayang di Sarolagun Jambi yang Jadi Idola Turun-temurun

Gubernur Jambi Fachrori Umar

Para warga, saat itu cukup menikmati dengan hasil yang diajarkan.

Hingga muncul ide untuk membuat persneling mobil bermotif ular kobra.

"Saat itu ada warga yang bertanya apa bisa motif yang di asbak ini dibuat menjadi persneling mobil. Jawab orang Padang itu, bisa kenapa tidak," cerita Janik.

Karya perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Karya perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. (Tribun Jambi/Rian Aidilfi)

Dari situlah, ide tersebut hingga saat ini masih digunakan dan semakin diminati.

"Peminatnya dari luar daerah yang banyak. Kalau di Jambi ini rerata sopir-sopir mobil travel dan truk batubara saja," ujarnya.

Dari minat itu pula muncul permintaan dari pelanggan untuk membuat motif hewan lain.

"Saat kita berjualan, pelanggan ini minta dibuatkan motif-motif hewan lain seperti burung cendrawasih, tengkorak, naga dan lainnya," jelasnya.

Wika Salim yang Godain Ariel NOAH, Pernah Posting IG Berjudul Video Mesum dan Gagal Berumah Tangga

Minyak Kepayang, Olahan Buah Kepayang yang Miliki Banyak Manfaat

Pasang Surut Desa Betung Kabupaten Batanghari

Kisah Desa Pulau Betung di Jambi menjadi kampung ukiran kayu bukan berdiri secara instan.

Ada perjalanan satu di antara tempat wisata di Jambi ini memiliki ciri khas.

Desa Pulau Betung yang berada di Kecamatan Pemayung ini dulunya pernah berjaya pada 2000-an.

Kala itu masa kepemimpinan almarhum Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin.

Satu di antara perajin di desa tersebut, yakni Janik (47).

Perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. (Tribun Jambi/Rian Aidilfi)

Warga sekitar ini menyebut bahwa desanya ini sejak 1990-an sudah menjadi desa khas ukiran di Provinsi Jambi.

"Hingga saat ini masih eksis walau tak seperti dulu," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (7/12/2019).

Janik bercerita bahwa saat kepemimpinan Gubernur Zulkifli Nurdin, ukiran-ukiran di desanya sangat diperhatikan dan diminati masyarakat Jambi maupun dari daerah lainnya.

Inilah 3 Peristiwa Astronomi Langka yang Akan Terjadi di Bulan November, Jangan Sampai Terlewatkan!

Bahkan, almarhum Zulkifli, kata Janik, dulu sering membeli ukiran-ukiran seperti hiasan, kursi dan lainnya dari desa ini.

Tak hanya itu, para pejabat yang ada di Jambi pun juga banyak yang memesan maupun membeli langsung kerajinan tangan dari desanya.

Hal itulah yang membuat para pengrajin di Desa Pulau Betung saat itu semangat untuk membuat ukiran.

Lantaran merupakan sumber pencarian utama.

"Itu yang bisa saya kenang dari almarhum. Desa ini sungguh diperhatikan," ujar Janik.

Berbanding terbalik dengan sekarang.

Kata Janik, masyarakat di desanya sudah banyak yang beralih profesi menjadi petani.

Hanya tersisa sekira 18 kepala keluarga yang masih aktif menjadikan ukiran kayu sebagai sumber utama penghasilannya.

"Sekarang ini kami seperti tak diperhatikan oleh pemerintah. Yang masih peduli dengan kami hanya pejabat camat saja yang memperhatikan kerajinan ukiran kami agar tidak punah," katanya.

Janik mengakui bahwa ini adalah sumber mata pencarian utama keluarganya.

Ia, anggota keluarga dan beberapa warga lainnya sepakat eksis membuat ukiran ini masih tetap berjalan lantaran semangatnya untuk memasarkannya ke luar Jambi.

"Ukiran-ukiran yang sudah jadi ini kami jual ke luar daerah. Karena peminatnya masih cukup tinggi. Ini sumber utama penghasilan kami. Kalau tidak, kami tidak makan," sebut Janik.

Ukiran-ukiran yang siap untuk dijual, kata Janik dibawa keliling kota seperti Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang dan Lampung.

"Di sana kami punya pelanggan tetap. Tiap bulan ratusan ukiran berupa asbak, persneling mobil dan lainnya kami antar ke sana. Bisa dikatakan habis dan kami pulang membawa uang," ungkapnya.

Hal ini ia lakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Ia berkeliling dari kota ke kota lain selama 12 hari bersama istrinya untuk menjual langsung ukiran kerajinan tangan dari desanya.

"Teman saya berjualan ke kota-kota itu hanya istri saya dan mobil avanza putih," sebutnya.

Janik dan beberapa warga desanya sempat terpikir untuk membuka outlet atau toko khusus untuk menjajakan ukiran-ukiran kayu khas Desa Pulau Betung di berbagai kota.

Namun, itu hanya rencana saja.

Lantaran masalah utamanya adalah butuh biaya yang cukup besar.

Bukan tak pernah punya toko di daerah sendiri.

Hanya saja, ia harus menutup tokonya lantaran sepi peminat.

Saat ini hanya ada beberapa toko saja yang tersisa milik adiknya.

"Satu toko di Betung, satu toko di Sebapo dan satu toko lagi arah ke Jambi. Meski begitu peminatnya kurang ramai," ujarnya.

Ia juga mempunyai akun jejaring sosial khusus untuk menawarkan ukiran-ukiran khas desanya.

Hanya saja, peminatnya tetap sepi dari daerah Jambi.

"Yang membeli atau memesan dari luar pulau Sumatera," sebutnya.

Ia berharap dari pemerintah daerah agar bisa memperhatikan Desa Pulau Betung agar ukiran khasnya tidak anjlok dan punah di daerah sendiri.

Ingin berkunjung?

Bagi pecinta seni ukiran kayu, ada baiknya mengunjungi satu di antara kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi ini.

Berlokasi di Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Anda bisa mendapatkan beragam ukiran kayu apapun yang diinginkan.

Mulai dari kursi ukiran kayu, hiasan, asbak rokok, persneling mobil dan lainnya.

Sepintas, memang tak ada tanda khusus yang menunjukkan bahwa Pulau Betung adalah desa yang khas ukiran.

Namun, jika Anda menyusuri jalan dari simpang Desa Pulau Betung, setelah masuk ke kanan sekira setengah kilometer dari simpang, akan terlihat rumah-rumah warga yang tengah membuat ukiran.

Para perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Para perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. (Tribun Jambi/Rian Aidilfi)

Anda bisa melihat langsung proses pengukiran motif kayu yang dibuat langsung oleh perajin.

Bahkan juga bisa jika sekadar ingin belajar mengukir kayu.

Jangan heran jika di sana melihat ibu-ibu yang turut ikut dalam proses pengukiran motif kayu.

Bagi peminat ukiran kayu, Janik menawarkan langsung untuk datang ke Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung yang aksesnya tak begitu jauh dari Kota Jambi maupun Kota Muara Bulian.

Pasalnya, jika yang memiliki hobi dengan ukiran kayu ini bisa membeli maupun memesan langsung baik dari jenis kayu hingga motif yang diinginkan.

Harga yang dipatok pun cukup bersahabat.

"Apapun permintaan dari pelanggan bisa kami penuhi," ucap Janik.

Saat ini, masih ada belasan warga termasuk dirinya dan keluarganya yang masih aktif membuat ukiran-ukiran dari kayu menjadi barang yang bernilai seni.

Janik dan keluarganya, saat ini fokus membuat ukiran kayu berupa tongkat persneling mobil bermotif hewan seperti ular kobra, ular naga, burung cendrawasih dan lainnya.

Lantaran, ukiran motif tersebut masih cukup diminati hingga saat ini.

"Kita juga membuat ukiran lainnya seperti meubel ukiran, hiasan berupa ikan dan lainnya tapi jika ada permintaan," katanya.

Dalam sehari, ia dan beberapa anggota keluarganya bisa membuat ukiran kayu berupa persneling mobil bisa hingga belasan.

Dan ukiran tersebut sudah siap untuk dijual dengan harga mulai dari Rp 40 ribu- Rp 75 ribu bergantung pada besar dan panjang bentuknya.

"Jika dihitung, dalam sehari bisa dapat 100 lebih ukiran kayu persneling mobil," katanya.

Jenis kayu yang digunakan para pengukir di desanya yakni rerata saat ini adalah kayu jenis durian, meranti dan merelang.

Disamping cocok untuk bahan utama ukiran, jenis kayu tersebut juga mudah didapatkan.

"Kayu jenis ini kuat dan tahan jika untuk ukiran namun kurang cocok untuk dijadikan bahan untuk membuat rumah," sebutnya.

Janik mengatakan, bagi peminat ukiran kayu bisa datang langsung ke RT 2, Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari.

Atau langsung memesan melalui nomor telepon dan whatsappnya di 0853-9871-8107.

"Kami jamin pemesan puas," tegasnya. (Rian Aidilfi / Tribunjambi.com)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
26 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved