Warga Desa Pulau Betung Produksi Tongkat Persneling dari Kayu dengan Beragam Ukiran

Awalnya, warga di Desa Pulau Betung membuat ukiran-ukiran hiasan berupa ikan arwana, burung cendrawasih, mebel ukiran dan lainnya.

Warga Desa Pulau Betung Produksi Tongkat Persneling dari Kayu dengan Beragam Ukiran
Tribun Jambi/Rian Aidilfi
Perajin di kampung ukiran kayu di Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. 

Janik mengakui bahwa ini adalah sumber mata pencarian utama keluarganya.

Ia, anggota keluarga dan beberapa warga lainnya sepakat eksis membuat ukiran ini masih tetap berjalan lantaran semangatnya untuk memasarkannya ke luar Jambi.

"Ukiran-ukiran yang sudah jadi ini kami jual ke luar daerah. Karena peminatnya masih cukup tinggi. Ini sumber utama penghasilan kami. Kalau tidak, kami tidak makan," sebut Janik.

Ukiran-ukiran yang siap untuk dijual, kata Janik dibawa keliling kota seperti Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang dan Lampung.

"Di sana kami punya pelanggan tetap. Tiap bulan ratusan ukiran berupa asbak, persneling mobil dan lainnya kami antar ke sana. Bisa dikatakan habis dan kami pulang membawa uang," ungkapnya.

Hal ini ia lakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Ia berkeliling dari kota ke kota lain selama 12 hari bersama istrinya untuk menjual langsung ukiran kerajinan tangan dari desanya.

"Teman saya berjualan ke kota-kota itu hanya istri saya dan mobil avanza putih," sebutnya.

Janik dan beberapa warga desanya sempat terpikir untuk membuka outlet atau toko khusus untuk menjajakan ukiran-ukiran kayu khas Desa Pulau Betung di berbagai kota.

Namun, itu hanya rencana saja.

Lantaran masalah utamanya adalah butuh biaya yang cukup besar.

Bukan tak pernah punya toko di daerah sendiri.

Hanya saja, ia harus menutup tokonya lantaran sepi peminat.

Saat ini hanya ada beberapa toko saja yang tersisa milik adiknya.

"Satu toko di Betung, satu toko di Sebapo dan satu toko lagi arah ke Jambi. Meski begitu peminatnya kurang ramai," ujarnya.

Ia juga mempunyai akun jejaring sosial khusus untuk menawarkan ukiran-ukiran khas desanya.

Hanya saja, peminatnya tetap sepi dari daerah Jambi.

"Yang membeli atau memesan dari luar pulau Sumatera," sebutnya.

Ia berharap dari pemerintah daerah agar bisa memperhatikan Desa Pulau Betung agar ukiran khasnya tidak anjlok dan punah di daerah sendiri.

Ingin berkunjung?

Bagi pecinta seni ukiran kayu, ada baiknya mengunjungi satu di antara kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi ini.

Berlokasi di Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Anda bisa mendapatkan beragam ukiran kayu apapun yang diinginkan.

Mulai dari kursi ukiran kayu, hiasan, asbak rokok, persneling mobil dan lainnya.

Sepintas, memang tak ada tanda khusus yang menunjukkan bahwa Pulau Betung adalah desa yang khas ukiran.

Namun, jika Anda menyusuri jalan dari simpang Desa Pulau Betung, setelah masuk ke kanan sekira setengah kilometer dari simpang, akan terlihat rumah-rumah warga yang tengah membuat ukiran.

Para perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Para perajin di kampung ukiran kayu di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. (Tribun Jambi/Rian Aidilfi)

Anda bisa melihat langsung proses pengukiran motif kayu yang dibuat langsung oleh perajin.

Bahkan juga bisa jika sekadar ingin belajar mengukir kayu.

Jangan heran jika di sana melihat ibu-ibu yang turut ikut dalam proses pengukiran motif kayu.

Bagi peminat ukiran kayu, Janik menawarkan langsung untuk datang ke Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung yang aksesnya tak begitu jauh dari Kota Jambi maupun Kota Muara Bulian.

Pasalnya, jika yang memiliki hobi dengan ukiran kayu ini bisa membeli maupun memesan langsung baik dari jenis kayu hingga motif yang diinginkan.

Harga yang dipatok pun cukup bersahabat.

"Apapun permintaan dari pelanggan bisa kami penuhi," ucap Janik.

Saat ini, masih ada belasan warga termasuk dirinya dan keluarganya yang masih aktif membuat ukiran-ukiran dari kayu menjadi barang yang bernilai seni.

Janik dan keluarganya, saat ini fokus membuat ukiran kayu berupa tongkat persneling mobil bermotif hewan seperti ular kobra, ular naga, burung cendrawasih dan lainnya.

Lantaran, ukiran motif tersebut masih cukup diminati hingga saat ini.

"Kita juga membuat ukiran lainnya seperti meubel ukiran, hiasan berupa ikan dan lainnya tapi jika ada permintaan," katanya.

Dalam sehari, ia dan beberapa anggota keluarganya bisa membuat ukiran kayu berupa persneling mobil bisa hingga belasan.

Dan ukiran tersebut sudah siap untuk dijual dengan harga mulai dari Rp 40 ribu- Rp 75 ribu bergantung pada besar dan panjang bentuknya.

"Jika dihitung, dalam sehari bisa dapat 100 lebih ukiran kayu persneling mobil," katanya.

Jenis kayu yang digunakan para pengukir di desanya yakni rerata saat ini adalah kayu jenis durian, meranti dan merelang.

Disamping cocok untuk bahan utama ukiran, jenis kayu tersebut juga mudah didapatkan.

"Kayu jenis ini kuat dan tahan jika untuk ukiran namun kurang cocok untuk dijadikan bahan untuk membuat rumah," sebutnya.

Janik mengatakan, bagi peminat ukiran kayu bisa datang langsung ke RT 2, Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari.

Atau langsung memesan melalui nomor telepon dan whatsappnya di 0853-9871-8107.

"Kami jamin pemesan puas," tegasnya. (Rian Aidilfi / Tribunjambi.com)

Ikuti kami di
Penulis: suci08
Editor: Ami Heppy
Sumber: Tribun Jambi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved