Warga Desa Pulau Betung Produksi Tongkat Persneling dari Kayu dengan Beragam Ukiran

Awalnya, warga di Desa Pulau Betung membuat ukiran-ukiran hiasan berupa ikan arwana, burung cendrawasih, mebel ukiran dan lainnya.

Penulis: suci08
Editor: Ami Heppy
Tribun Jambi/Rian Aidilfi
Perajin di kampung ukiran kayu di Desa Pulau Betung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. 

Janik bercerita bahwa saat kepemimpinan Gubernur Zulkifli Nurdin, ukiran-ukiran di desanya sangat diperhatikan dan diminati masyarakat Jambi maupun dari daerah lainnya.

Inilah 3 Peristiwa Astronomi Langka yang Akan Terjadi di Bulan November, Jangan Sampai Terlewatkan!

Bahkan, almarhum Zulkifli, kata Janik, dulu sering membeli ukiran-ukiran seperti hiasan, kursi dan lainnya dari desa ini.

Tak hanya itu, para pejabat yang ada di Jambi pun juga banyak yang memesan maupun membeli langsung kerajinan tangan dari desanya.

Hal itulah yang membuat para pengrajin di Desa Pulau Betung saat itu semangat untuk membuat ukiran.

Lantaran merupakan sumber pencarian utama.

"Itu yang bisa saya kenang dari almarhum. Desa ini sungguh diperhatikan," ujar Janik.

Berbanding terbalik dengan sekarang.

Kata Janik, masyarakat di desanya sudah banyak yang beralih profesi menjadi petani.

Hanya tersisa sekira 18 kepala keluarga yang masih aktif menjadikan ukiran kayu sebagai sumber utama penghasilannya.

"Sekarang ini kami seperti tak diperhatikan oleh pemerintah. Yang masih peduli dengan kami hanya pejabat camat saja yang memperhatikan kerajinan ukiran kami agar tidak punah," katanya.

Janik mengakui bahwa ini adalah sumber mata pencarian utama keluarganya.

Ia, anggota keluarga dan beberapa warga lainnya sepakat eksis membuat ukiran ini masih tetap berjalan lantaran semangatnya untuk memasarkannya ke luar Jambi.

"Ukiran-ukiran yang sudah jadi ini kami jual ke luar daerah. Karena peminatnya masih cukup tinggi. Ini sumber utama penghasilan kami. Kalau tidak, kami tidak makan," sebut Janik.

Ukiran-ukiran yang siap untuk dijual, kata Janik dibawa keliling kota seperti Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang dan Lampung.

"Di sana kami punya pelanggan tetap. Tiap bulan ratusan ukiran berupa asbak, persneling mobil dan lainnya kami antar ke sana. Bisa dikatakan habis dan kami pulang membawa uang," ungkapnya.

Hal ini ia lakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Ia berkeliling dari kota ke kota lain selama 12 hari bersama istrinya untuk menjual langsung ukiran kerajinan tangan dari desanya.

"Teman saya berjualan ke kota-kota itu hanya istri saya dan mobil avanza putih," sebutnya.

Janik dan beberapa warga desanya sempat terpikir untuk membuka outlet atau toko khusus untuk menjajakan ukiran-ukiran kayu khas Desa Pulau Betung di berbagai kota.

Namun, itu hanya rencana saja.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
26 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved