Mengenal Pohon Kepayang di Sarolagun Jambi yang Jadi 'Idola' Turun-temurun

Pohon berbuah yang biasa disebut keluwek (keluak) oleh masyarakat, ini masih ada dan lestari di Kasawan, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Penulis: suci08
Editor: Ami Heppy
Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto
Petani di Batang Asai, Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi,menunjukkan buah kepayang (Pangium Edule) satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya. 

Mengenal Pohon Kepayang di Sarolagun Jambi 'Idola' Turuntemurun, Bijinya Diolah Jadi Minyak Goreng Kemasan

TRIBUNWIKIJAMBI.COM, SAROLANGUN - Pohon kepayang ( Pangium edule) satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya.

Di Sarolangun, pohon ini menjadi 'idola' masyarakat.

Pohon berbuah yang biasa disebut keluwek ( keluak) oleh masyarakat ini masih ada dan lestari di Kasawan, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Selain bertani karet yang merupakan mata pencaharian utama, masyarakat juga sudah lama memanfaatkan buah kepayang.

Minyak kepayang satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya.
Minyak kepayang satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya. (Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto)

Buah kepayang atau keluak ini sudah secara turun-temurun dimanfaatkan masyarakat Batang Asai dengan mengolahnya menjadi minyak untuk keperluan sehari-hari.

Masyarakat Batang Asai sendiri sudah lama menggunakan minyak ini.

Namun umumnya terbatas untuk keperluan sehari-hari.

Pemanfaatan biji buah kepayang pertama dilakukan di Desa Sungai Bemban, Kecamatan Batang Asai pada 2015.

Setelah berkembang, beberapa desa di sekitarnya ikut mengolah biji tersebut hingga sekarang.

Daftar, Alamat dan Nomor Telepon Bank di Kota Jambi

Mengenal Motif Batik Jambi dan Maknanya - Duren Pecah, Kuao Berhias, Angso Duo Bersayap

Dalam pengolahan itu, pertama masih dalam satu varian yaitu minyak untuk memasak yang jumlahnya terbatas.

"Minyak kepayang ini cukup lama. Masyarakat Kabupaten Sarolangun di wilayah Batang Asai sudah menggunakan minyak kepayang sebelum ada minyak goreng kemasan," kata Misriadi, Kepala KPH Limau Sarolangun.

Dulu, selain menjadi minyak goreng, warga memanfaatkannya sebagai minyak urut dan minyak penghilang rasa sakit.

Lanjutnya, setelah dipelajari, memang minyak goreng dari biji kepayang tersebut rasanya sangat enak.

Minyak yang sangat enak itu belum ada yang memroduksi di Indonesia maupun dunia.

Pihak KPH lalu mengembangkan minyak kepayang itu dengan cara memberdayakan masyarakat sekitar penghasil buah.

Cara itu dilakukan agar mendukung pelestarian dan pemanfaatan tanaman kepayang.

Warga Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, menunjukkan bentuk buah kepayang atau kluek.
Warga Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, menunjukkan bentuk buah kepayang atau keluak. (Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto)

Masyarakat secara langsung mendapat manfaat dari hasil hutan, tanpa harus merusak alam.

Sehingga, masyarakat menyadari untuk menjaga hutan agar tetap asri.

Di samping itu juga, buah itu bisa mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar.

Untuk meningkatkan produk minyak dari buah kepayang ini, pihak KPHP juga memberikan bantuan alat yang sebelumnya sangat sederhana menjadi alat pres yang lebih modern.

Hal ini memungkinkan lebih efektif dari sisi waktu, sehingga memungkinkan hasil minyak yang akan diproses.

Saat ini, ada 23 kelompok tani masyarakat penghasil kepayang.

Petani di Batang Asai, Sarolangun di kebuh menanam pohon kepayang atau kluek.
Petani di Batang Asai, Sarolangun di kebuh menanam pohon kepayang atau kluek. (Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto)

Puluhan kelompok tani itu bisa mengolah kepayang mencapai 500 kilogram minyak kepayang setiap kali panen.

Pohon kepayang berbuah 3 kali setiap tahun.

Untuk pengolahan, dari buah kepayang, terlebih dahulu buah diambil dan dipisahkan bijinya.

Kemudian direndam selama satu minggu hingga dua minggu

Satu kilogram daging buah kepayang jika di pres menghasilkan 0,3 gram minyak kepayang.

Lalu untuk 10 kilogram daging kepayang akan menghasilkan 3 kilogram minyak kepayang.

(Tribunjambi.com/Wahyu Herliyanto)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
25 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved