Mengenal Pohon Kepayang di Sarolagun Jambi yang Jadi 'Idola' Turun-temurun

Pohon berbuah yang biasa disebut keluwek (keluak) oleh masyarakat, ini masih ada dan lestari di Kasawan, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Mengenal Pohon Kepayang di Sarolagun Jambi yang Jadi 'Idola' Turun-temurun
Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto
Petani di Batang Asai, Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi,menunjukkan buah kepayang (Pangium Edule) satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya. 

Dalam pengolahan itu, pertama masih dalam satu varian yaitu minyak untuk memasak yang jumlahnya terbatas.

"Minyak kepayang ini cukup lama. Masyarakat Kabupaten Sarolangun di wilayah Batang Asai sudah menggunakan minyak kepayang sebelum ada minyak goreng kemasan," kata Misriadi, Kepala KPH Limau Sarolangun.

Dulu, selain menjadi minyak goreng, warga memanfaatkannya sebagai minyak urut dan minyak penghilang rasa sakit.

Lanjutnya, setelah dipelajari, memang minyak goreng dari biji kepayang tersebut rasanya sangat enak.

Minyak yang sangat enak itu belum ada yang memroduksi di Indonesia maupun dunia.

Pihak KPH lalu mengembangkan minyak kepayang itu dengan cara memberdayakan masyarakat sekitar penghasil buah.

Cara itu dilakukan agar mendukung pelestarian dan pemanfaatan tanaman kepayang.

Warga Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, menunjukkan bentuk buah kepayang atau kluek.
Warga Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, menunjukkan bentuk buah kepayang atau keluak. (Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto)

Masyarakat secara langsung mendapat manfaat dari hasil hutan, tanpa harus merusak alam.

Sehingga, masyarakat menyadari untuk menjaga hutan agar tetap asri.

Di samping itu juga, buah itu bisa mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: suci08
Editor: Ami Heppy
Sumber: Tribun Jambi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved