Minyak Kepayang, Olahan Buah Kepayang yang Miliki Banyak Manfaat

Minyak kepayang sangat laku dipasaran karena kandungan omeganya lebih tinggi dari minyak ikan, kemudian non kolesterol, serta nonpestisida

Penulis: suci08
Editor: Ami Heppy
Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto
Minyak kepayang satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya. 

Minyak kepayang sangat laku dipasaran karena kandungan omeganya lebih tinggi dari minyak ikan, kemudian non kolesterol, serta nonpestisida (karena alami dari hutan).

"Tentunya trend saat ini, produk-produk herbal yang dicari. Minyak kepayang juga bisa digunakan untuk obat sakit gigi, karena mengandung sejenis analgesik," ucapnya.

Wika Salim yang Godain Ariel NOAH, Pernah Posting IG Berjudul Video Mesum dan Gagal Berumah Tangga

Gubernur Jambi Fachrori Umar

Minyak Kepayang Sarolangun sudah 'Sampai' Belanda dan Jepang

Olahan dari buah kepayang atau keluak yang sudah memunculkan beberapa produk turunan di Sarolangun ini siap bersaing dengan produk sejenis.

Produk lokal dan unggulan dari Bumi Sepucuk Adat Serumpun Pseko itu siap bersaing dengan kompetitor setelah melengkapi legalitas produk.

"Produk lokal tentu banyak yang harus kita lengkapi agar bersaing dengan produk yang lain dan produk kompetitor," katanya

Produk tersebut menjadi unggulan yang sudah dipasarkan, baik Indonesia bahkan internasional.

Sekitar 400 kilogram lebih minyak sudah dipasarkan di Indonesia bahkan ada permintaan dari negara lain seperti Belanda.

Minyak tersebut dibanderol dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu per setengah liternya.

Sebelum memasarkan produk, pihak produsen terlebih dahulu melakukan legalitas kemudian mengenalkan barang.

Peluang yang cukup besar ini dimanfaatkan karena kepayang satu-satunya di dunia.

"Artinya harus lebih bagus minyak kepayang ini produk satu-satunya di dunia, peluang cukup besar," katanya.

Menurutnya, akumulasi dengan harga pada masyarakat umum dari Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.

Petani di Batang Asai, Sarolangun di kebuh menanam pohon kepayang atau kluek.
Petani di Batang Asai, Sarolangun di kebuh menanam pohon kepayang atau kluek. (Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto)

Jika diekspor, harga bisa dua kali lipat dari semula.

"Ini sangat menjanjikan dan akan mewujudkan konsep Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari," ujarnya

Bahkan pada 2018 lalu, masyarakat Kecamatan Batang Asai dan sekitarnya bisa memroduksi minyak kepayang mencapai 1,8 ton.

Sementara penjualan minyak kepayang masih fokus kepada pasar lokal, sebab belum bisa memenuhi permintaan pasar internasional yang sangat tinggi.

Salah satu contoh permintaan pasar internasional di Eropa, untuk tahun 2019 permintaan minyak kepayang sekitar 1 ton.

Kemudian permintaan dari sebanyak 500 kilogram.

Walaupun permintaan kepayang pada pasar internasional tinggi, pihak KPHP Limau Sarolangun masih tetap mendahulukan permintaan pasar lokal karena bahan baku terbatas.

Minyak kepayang satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya.
Minyak kepayang satu di antara jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dimanfaatkan buahnya. (Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto)
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
24 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved