Mengapa Ekspor Nikel Dilarang oleh Pemerintah? Inilah Alasan dan Analisa Para Pengamat

Pelarangan ekspor nikel resmi dipercepat dari jadwal semula. Hal ini dipicu oleh beberapa sebab. Apa saja?

ANTAM
Pemerintah resmi mempercepat pelarangan ekspor nikel. Hal ini dipicu oleh beberapa hal 

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemerintah Indonesia resmi melarang ekspor bijih nikel per 1 Januari 2020.

Namun keputusan tersebut dipercepat mulai Selasa, 29 Oktober 2019, seperti yang disampaikan Bahlil Lahadalia, selaku Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Keputusan ini dipicu adanya lonjakan ekspor bijih nikel yang melebihi kapasitas, seperti yang dikemukakan Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri Koordinasi Kemaritiman dan Investasi dalam Kompas TV.

Dalam dua bulan terakhir, ekspor bijih nikel naik mencapai 100 sampai 130 kapal per bulan.

Pada umumnya, ekspor rata-rata hanya 30 kapal per bulan.

Dalam evaluasi ini, pemerintah menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK.

Pemerintah mengaku tidak akan ragu memberikan sanksi hukum jika pelanggaran ditemukan.

Nikel 2
Produksi Nikel di Rusia (Deutsche Welle)

Pasar Nikel Meningkat

Sebelumnya, nikel merupakan komoditas sampingan, namun saat ini, logam ferromagnetis ini memantik kompetisi ekonomi trans nasional.

Nikel selama ini lebih sering digunakan sebagai bahan campuran untuk produksi baja nirkarat.

Namun demikian, semenjak beberapa tahun belakangan, dilaporkan Deutsche Welle, (20/10/2019), muncul pasar baru yang lebih menarik dalam penggunaan Nikel, yaitu: Baterai Lithium-ion.

Ambisi Pemerintah Geser Sawit

Pasar nasional Indonesia adalah satu di antara negara lainnya yang gandrung akan pemakaian nikel.

Pemerintah Indonesia saat ini memiliki ambisi besar untuk menggeser minyak sawit yang sebelumnya tercatat sebagai primadona ekspor dan menggantikannya dengan baterai kendaraan listrik.

Hal ini menjadi prospek jangka panjang pemerintah dalam 15-20 tahun mendatang.

Pada bulan Agustus 2019, Presiden Joko Widodo telah resmi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait aturan Mobil Listrik, yang satu di antaranya adalah mengatur produksi nikel nasional untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Fokus produksi nikel yang digarap Pemerintah Indonesia diharapkan menghasilkan harga bahan baku yang lebih murah.

Sehingga, kedepannya, produksi baterai buatan Indonesia dapat memiliki daya saing yang lebih besar.

Konsolidasi Ekonomi di Era Perang Dagang

Keputusan Pemerintah Indonesia menutup pintu ekspor nikel kemudian memicu gejolak di pasar global.

Hal ini terjadi karena dilakukan lebih awal ketimbang yang diduga pelaku pasar, seperti dilaporkan Bloomberg, (28/10/2019).

Linda Zhang, selaku analis pasar lembaga konsultan Wood McKenzie menduga bahwa keputusan yang diambil tersebut berkaitan dengan antisipasi belanja besar-besaran yang dilakukan oleh pelaku pasar Cina.

Hal tersebut relevan apabila dilihat dari angka pembelian sebelumnya di mana pada bulan Agustus silam, Cina membeli 5.72 ton biji nikel, dan meningkat tajam dari bulan atau tahun sebelumnya.

"Semua orang berusaha membeli nikel Indonesia sebanyak mungkin sebelum dilarang", kata Linda Zhang,kepada Reuters yang dikutip Deutsche Welle, (30/10/2019).

Tanggapan Positif Dalam Negeri

Pelarangan ekspor nikel ini mendapat sambutan positif di dalam negeri.

Enny Sri Hartati, seorang ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan bahwa keputusan yang diambil pemerintah justru membuka peluang bagi konsolidasi ekonomi dan sumber daya.

Menurut Enny, hal tersebut perlu dibarengi dengna penambahan kapasitas di sektor lain.

"Selama ini kan kita seperti tidak pernah punya gigi, karena selalu takut bahwa nanti neraca ekspornya babak belur," kata Enny kepada Deutsche Welle, (30/10/2019).

"Kalau kita bersikukuh (soal larangan ekspor), kita berkesempatan menjaring lonjakan investasi untuk sektor-sektor hilir." ujar Enny.

Cadangan Nikel Terbatas

Lembaga konsultan AlixPartners membuat prediksi bahwa industri otomotif akan membanjiri pasar dunia lantaran akan hadir 200 jenis mobil elektrik baru hingga tahun 2023.

Kedepannya, transportasi kendaraan listrik diharapkan tidak lagi memiliki harga mahal, sehingga dapat ditawarkan di semua kelas konsumen.

Lonjakan kebutuhan nikel ini tentu akan membuat pelaku pasar cemas lantaran harga yang semakin melambung.

Seperti contoh saat industrialisasi di Cina melambungkan harga nikel dari 10.000 USD per ton menjadi 50.000 USD per ton hanya dalam waktu beberapa tahun.

Hingga saat ini, harga nikel di pasar global meningkat ringan dan berada pada harga 18.000 USD per ton sejak Indonesia mengumumkan larangan ekspor.

Produsen Nikel Terbesar

Menurut catatan tahun 2016-2017, produksi nikel di Indonesia menyumbang masing-masing 39 persen dan 63 persen dari total perdagangan nikel dunia.

Oleh beberapa riset, Indonesia sempat dianggap sebagai negara dengan produsen nikel terbesar di dunia.

Luhut Bitsar Pandjaitan mengemukakan bahwa diprediksi cadangan nikel Indonesia akan habis pada tahun 2029.

Penggarapan sisa cadangan nikel yang menyentuh angka 3,5 miliar ton masih belum ditambang karena terbentur masalah lingkungan.

Para Pengimpor Memutar Akal

Kedepannya, keterbatasan cadangan nikel dan larangan ekspor dari Indonesia ini tentu memaksa pengimpor asing memutar akal.

Dalam catatan, Cina pernah melirik Filipina yang tercatat memiliki cadangan nikel terbesar kedua di dunia.

Sementara di negara-negara yang lain, seperti Inggris dan Australia dilaporkan sedang sibuk memeroleh dan mengamankan izin tambang nikel di berbagai negara.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal, sejumlah perusahaan telah melakukan eksperimen dengan teknologi baru untuk memroduksi bahan baku pengganti nikel, yaitu nikel sulfat dan komoditas lain, tanpa melalui metode ekstraktif.

Sementara lembaga analisa pasar Roskill menilai dibutuhkan harga nikel sebesar 20.000 USD per ton untuk membuat investasi besar-besaran di sektor hulu dapat menguntungkan.

 

Baca: Kementerian Perindustrian Republik Indonesia

Baca: Ibu Kota Baru : Gaikindo Sebut Industri Otomotif Tak Harus Pindah, Toyota Belum Perkirakan Potensi

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

Ikuti kami di
KOMENTAR
12 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved