Mengapa Ekspor Nikel Dilarang oleh Pemerintah? Inilah Alasan dan Analisa Para Pengamat

Pelarangan ekspor nikel resmi dipercepat dari jadwal semula. Hal ini dipicu oleh beberapa sebab. Apa saja?

Mengapa Ekspor Nikel Dilarang oleh Pemerintah? Inilah Alasan dan Analisa Para Pengamat
ANTAM
Pemerintah resmi mempercepat pelarangan ekspor nikel. Hal ini dipicu oleh beberapa hal 

Cadangan Nikel Terbatas

Lembaga konsultan AlixPartners membuat prediksi bahwa industri otomotif akan membanjiri pasar dunia lantaran akan hadir 200 jenis mobil elektrik baru hingga tahun 2023.

Kedepannya, transportasi kendaraan listrik diharapkan tidak lagi memiliki harga mahal, sehingga dapat ditawarkan di semua kelas konsumen.

Lonjakan kebutuhan nikel ini tentu akan membuat pelaku pasar cemas lantaran harga yang semakin melambung.

Seperti contoh saat industrialisasi di Cina melambungkan harga nikel dari 10.000 USD per ton menjadi 50.000 USD per ton hanya dalam waktu beberapa tahun.

Hingga saat ini, harga nikel di pasar global meningkat ringan dan berada pada harga 18.000 USD per ton sejak Indonesia mengumumkan larangan ekspor.

Produsen Nikel Terbesar

Menurut catatan tahun 2016-2017, produksi nikel di Indonesia menyumbang masing-masing 39 persen dan 63 persen dari total perdagangan nikel dunia.

Oleh beberapa riset, Indonesia sempat dianggap sebagai negara dengan produsen nikel terbesar di dunia.

Luhut Bitsar Pandjaitan mengemukakan bahwa diprediksi cadangan nikel Indonesia akan habis pada tahun 2029.

Penggarapan sisa cadangan nikel yang menyentuh angka 3,5 miliar ton masih belum ditambang karena terbentur masalah lingkungan.

Para Pengimpor Memutar Akal

Kedepannya, keterbatasan cadangan nikel dan larangan ekspor dari Indonesia ini tentu memaksa pengimpor asing memutar akal.

Dalam catatan, Cina pernah melirik Filipina yang tercatat memiliki cadangan nikel terbesar kedua di dunia.

Sementara di negara-negara yang lain, seperti Inggris dan Australia dilaporkan sedang sibuk memeroleh dan mengamankan izin tambang nikel di berbagai negara.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal, sejumlah perusahaan telah melakukan eksperimen dengan teknologi baru untuk memroduksi bahan baku pengganti nikel, yaitu nikel sulfat dan komoditas lain, tanpa melalui metode ekstraktif.

Sementara lembaga analisa pasar Roskill menilai dibutuhkan harga nikel sebesar 20.000 USD per ton untuk membuat investasi besar-besaran di sektor hulu dapat menguntungkan.

 

Baca: Kementerian Perindustrian Republik Indonesia

Baca: Ibu Kota Baru : Gaikindo Sebut Industri Otomotif Tak Harus Pindah, Toyota Belum Perkirakan Potensi

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

Ikuti kami di
Editor: Adya Rosyada Yonas
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved